Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #7

Aturan Kedua


Almira memastikan kembali penampilannya di cermin. Blus putih, celana flanel hitam, dan kitty heels. Set sederhana namun rapi yang selalu jadi andalannya.

Pagi ini ia mencoba terlihat lebih baik, meyakinkan dirinya bahwa hidupnya belum sepenuhnya berubah.

Untuk kedua kalinya, ia memastikan isi tasnya sudah lengkap. Ia tidak ingin menempuh satu jam perjalanan melewati dua benua hanya untuk kembali mengambil barang tertinggal. Setelah merasa siap, ia menuruni anak tangga dengan langkah ringan.

Di ruang makan, Erdoğan sudah duduk. Satu tangan memegang tablet, gerak jarinya stabil di layar. Ia hanya menoleh sekilas ketika Almira lewat, sebelum kembali fokus pada bacaan.

"Günaydın," sapa Almira singkat. Ia duduk dan meraih roti panggang.

"Mau kemana?" tanya Erdoğan tanpa menoleh. Nadanya datar, nyaris tanpa intonasi.

"Kerja. Ini hari pertamaku."

"Siapa yang menyuruhmu kembali bekerja?"

Almira terhenti, tangannya menggantung di udara. Ia menatap Erdoğan, bingung—dan perlahan tidak percaya.

"Apa maksudmu? Aku masih tercatat sebagai pegawai Hassan Company."

Erdoğan akhirnya menurunkan tablet. Tatapannya dingin, seolah ia sedang menghadapi sesuatu yang mengganggu rutinitasnya.

"Kau lupa? Namamu Almira Yaşaran. Dan di keluarga Yaşaran tidak ada wanita yang bekerja."

Sebelum Almira sempat memprotes, Erdoğan menatap tajam ke arah pintu dapur. Wajahnya mengeras.

"Fatma!"

Suaranya membuat Fatma segera keluar dari dapur, wajahnya langsung pucat.

"Aku menyuruhmu menjelaskan aturan rumah ini. Tapi dengar apa yang dia katakan pagi ini."

Almira menatap Erdoğan tak percaya. Bahkan Fatma terlihat canggung berdiri di sana.

"Maaf, Beyefendi," ucap Fatma pelan, matanya menghindari pandangan Almira yang terluka.

"Bereskan pekerjaanmu," potong Erdoğan, lalu bangkit dan pergi begitu saja, meninggalkan Almira yang terpaku di kursinya.

Fatma mendekat perlahan.

"Hanımefendi, apa Anda ingin sarapan Anda disiapkan sekarang?"

Pertanyaan lembut itu menghentakkan Almira dari keterpakuannya.

"Maafkan aku, Fatma. Aku tidak menyangka dia akan bersikap begitu," ucapnya tulus, merasa bersalah meski bukan ia penyebabnya.

"Tak apa, Hanımefendi. Ini memang aturan rumah. Bukan kesalahan Anda." Fatma tersenyum kecil. "Saya siapkan sarapan sekarang."

Setelah pelayan itu berlalu, wajah bersalah Almira menghilang. Keterkejutannya berubah menjadi panas yang naik ke tenggorokan. Ia meraih ponsel, jarinya gemetar antara kesal dan marah.

Lihat selengkapnya