Perlawanannya belum padam. Almira masih berusaha bernegosiasi dengan Erdoğan meski semua usahanya selalu berakhir buntu.
Pagi ini, ia kembali mencoba. Lima belas menit sebelum pukul tujuh ia sudah duduk di ruang makan. Fatma dan Seda yang melihatnya hanya saling memandang heran namun memilih diam.
Pukul tujuh tepat. Duduknya berubah tegak, jemarinya saling menggenggam di pangkuan. Matanya sesekali melirik ke arah tangga, berulang kali menarik napas panjang.
Pukul tujuh lebih lima menit. Kegelisahan mulai merayap. Tatapannya berpindah dari jam tangan kecil di pergelangan tangannya ke arah tangga dan ruang tengah.
Sungguh aneh, di saat penting seperti ini pria itu justru terlambat turun. Padahal Erdoğan Yaşaran dikenal selalu tepat waktu.
Sepuluh menit berlalu, tapi tak terdengar suara langkah menuruni anak tangga. Kesabarannya mulai terkikis. Almira berdiri dan menuju ruang tengah, tepat saat Erdoğan akhirnya muncul di tangga. Pria itu hanya menurunkan pandangan sekilas pada Almira yang berjalan dari ruang makan, lalu mengalihkan arah begitu saja menuju pintu depan.
"Tunggu," cegah Almira. Suaranya terdengar seperti permohonan daripada perintah.
Erdoğan tidak memperlambat langkahnya, membuat Almira terpaksa mengekor di belakangnya.
"Aku akan bekerja dari rumah," ucapnya cepat. "Aku tidak akan keluar. Aku janji."
Erdoğan terus berjalan tanpa menoleh.
"Lütfen."
Nada memohon itu tampaknya membuat pria itu berubah pikiran. Langkahnya terhenti mendadak. Almira yang berjalan di belakangnya tak sempat berhenti dan menabrak punggungnya.
Erdoğan berbalik perlahan.
"Aku tidak melakukan tawar-menawar," ujarnya datar. "Kau hanya punya satu kewajiban. Lakukan perintahku."
Tanpa memberi kesempatan untuk membalas, Erdoğan kembali melangkah pergi. Tapi kali ini Almira tidak mengejarnya.
Ia berdiri kaku, memandang punggung Erdoğan yang menjauh dan hilang di balik pintu lift kaca.