Seminggu berlalu sejak Erdoğan melarangnya bekerja. Perlahan, ia mulai menata kembali dirinya. Sejak beberapa hari belakangan, ia memperhatikan ritme di rumah ini. Jadwal harian Erdoğan, kebiasaan para pekerja rumah, sampai cerita kecil tentang keluarga Yaşaran. Dari obrolan para pekerja, Almira mulai memahami sebesar apa keluarga Yaşaran sebenarnya.
Pagi ini, setelah sarapan sunyi seperti biasanya, Almira kembali mencoba melakukan sesuatu.
Udara di belakang rumah terasa sejuk. Sinar matahari musim semi menyinari taman dengan lembut, membuat warna-warna bunga tampak lebih terang dari biasanya. Almira melangkah perlahan dan mendekati seorang pekerja pria paruh baya yang sedang menata bunga.
"Günaydın," sapanya dengan senyum ringan.
Lelaki itu terlihat kaget sejenak, namun cepat mengatur ekspresi dan membalas dengan sopan. "Günaydın, Hanımefendi."
"Maaf... aku belum tahu namamu. Tapi aku melihatmu merapikan bunga-bunga ini. Indah sekali," ujarnya ramah.
"Saya Mustafa."
"Oh, Tamam. Mustafa." Almira mengulangi namanya, seperti ingin mengingat dengan benar. Ia kemudian menatap bunga-bunga yang bermekaran. "Ibuku suka bunga. Tapi aku sendiri... tidak terlalu mengenal macam-macamnya. Mungkin karena aku besar di negara tropis." Ia meringis kecil, sadar ucapannya mungkin terdengar tidak penting.
Mustafa tersenyum tipis. "Jika Anda mau, saya bisa menjelaskan satu per satu."
"Tentu aku mau."
Mustafa mulai berjalan pelan dan Almira mengikutinya.
"Ini daffodil," katanya sambil menunjuk bunga kuning cerah berbentuk terompet, lalu menunjuk bunga lain berbentuk mirip bintang. "Yang ini kardelen. Orang Amerika menyebutnya glory of the snow."
"Wah... Pengetahuanmu luar biasa," Almira bersuara takjub kecil. "Kau sudah lama bekerja dengan keluarga Yaşaran?"
"Lebih dari tiga puluh tahun. Erdoğan Beyefendi juga meminta saya menata tamannya ketika beliau membangun rumah ini."
"Dia membangun rumah ini dari awal?" Almira tak menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Ya. Saya dengar beliau sendiri yang merancang desainnya."
"Hm." Almira mengangguk pelan.
Erdoğan Yaşaran ternyata merancang rumah ini sendiri.
Almira menatap taman di depannya lagi.
Bahkan nama bunga-bunga itu pun baru ia pelajari pagi ini.
Percakapan mereka mengalir lebih lancar seiring waktu. Mustafa menjelaskan cara merawat tanaman saat musim dingin tiba, dan Almira sesekali tertawa ketika ia salah menyebut nama bunga. Untuk sesaat, ia merasa seperti dirinya yang sebelum ini—sebelum ia datang ke negara ini.
Sebelum semuanya berubah.
Ia begitu tenggelam dalam suasana itu sampai tidak menyadari sepasang mata dari balkon lantai atas sedang mengamati dengan sorot tidak senang.
---
Erdoğan bersandar di railing balkon, rahangnya mengeras.
Wanita itu terlihat nyaman berada di rumah ini. Dan hal itu mengganggunya.
Erdoğan mengambil ponselnya, membuka chat dengan seseorang bernama Emre.
Erdoğan: Aku akan datang.
Balasan dari Emre muncul beberapa detik kemudian, tetapi Erdoğan tidak membacanya. Ia mematikan layar ponsel lalu memasukkan ke saku celananya.