Jalanan yang mereka lalui kian menanjak, diapit deretan pohon pinus tua yang menjulang memberi kesan mewah sekaligus tertutup dari dunia luar.
Di depan, pagar besi tempa terbuka otomatis menyambut mereka. Mobil Erdoğan melaju memasuki halaman vila yang luas. Di kiri kanan berjajar rapi mobil-mobil mewah dari berbagai merk Eropa—Bentley, Aston Martin, Porsche. Di antara deretan mobil mewah yang mencolok, Audi A8 hitam Erdoğan justru terlihat paling tenang. Tidak menarik perhatian, tapi sulit diabaikan.
Erdoğan turun lebih dulu, diikuti Almira. Seorang pria dengan jas hitam menunduk hormat dan mempersilahkan mereka masuk. Langkah mereka menapaki undakan batu kecil sebelum tiba di ballroom bergaya mediterania.
Alunan piano klasik menyambut mereka, diselingi dentingan gelas champagne yang beradu dan bisik-bisik yang hanya dimengerti kelompok tertentu.
Ballroom itu tinggi, atapnya menjulang hampir tujuh meter. Sebuah kandeliar kristal besar menggantung di tengah, memancarkan cahaya hangat berwarna keemasan. Dua jendela kaca tinggi tertutup tirai beludru hitam, menutup dunia luar dari pesta yang terasa terlalu eksklusif. Di sudut ruangan, tangga setengah melingkar membawa pandangan menuju lantai atas berbentuk balkon setengah lingkaran. Tempat sempurna bagi orang-orang yang gemar mengamati.
Almira berdiri canggung di samping Erdoğan, tubuhnya kaku. Wajah-wajah asing mengelilingi mereka, tak satupun tampak familiar.
"Erdoğan," suara ceria menyapa. Seorang pria mendekat dengan senyum lebar. "Aku senang kau datang, kawan."
"Hm." Erdoğan membalas dengan gumaman pendek
"Selam, Almira. Kau mungkin lupa padaku. Kita hanya sempat bertemu sebentar di pernikahan kalian," ujarnya ramah. "Aku Emre, teman kuliah Erdoğan."
"Selam. Maaf, aku lupa."
"Dimana sang pengantin?" Erdoğan menyela, mengambil segelas champagne dari pramusaji.
Emre menunjuk ke arah sekelompok pria di ujung ruangan. Ketika kerumunan itu buyar, tampak pasangan pengantin. Seorang pria paruh baya ber-tuxedo hitam dan wanita bergaun putih off-shoulder dengan kecantikan yang sulit diabaikan. Lekuk tubuhnya tampak jelas di balik gaunnya, rambut pirangnya tergerai. Wajahnya sangat cantik, seperti sesuatu yang sengaja diciptakan untuk ruang pesta semacam ini.
Mereka mendekat.
"Yaşaran!" seru pengantin pria penuh semangat. Ia menjabat tangan Erdoğan dan menepuk-nepuk bahunya.
Almira mengerutkan kening saat melihat Erdoğan tersenyum lebar. Senyum yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, seakan pria itu tiba-tiba berubah menjadi orang lain.
"Alagöz Bey, selamat atas pernikahannya," ujar Erdoğan ramah. "Bahar, selamat." Ia menjabat tangan sang mempelai wanita. Wanita itu membalasnya dengan senyum yang terlalu lama bertahan, terlalu hangat untuk pertemuan pertama.
"Maaf aku tak hadir di pernikahan kalian," kata Alagöz. "Ada pertemuan di München."
"Bukan masalah. Babam sudah menyampaikan padaku."
Alagöz lalu memandang Almira dan tertawa kecil. "Hassan. Kau memang berjodoh dengan mereka, eh."
Senyum Erdoğan membeku sepersekian detik. Hampir tak terlihat, kecuali oleh Almira.
"Nikmatilah pestanya," ujar Alagöz sebelum berlalu.
"Kau mau minum?" Erdoğan menoleh sekilas pada Almira. Tanpa menunggu jawaban, ia pergi. Bahar tiba-tiba mengekor di belakangnya. Langkahnya ringan, terlalu percaya diri, seolah sudah tahu persis arah Erdoğan.