Seberkas cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Ia membuka mata perlahan, lalu menatap sekeliling dengan bingung, berusaha mengingat di mana dirinya berada.
Sebuah benda bening berkilat lembut disampingnya. Tangannya ingin meraih benda itu seakan menjadi sumber kehidupan.
"Air..." suaranya lirih, begitu lemah hingga nyaris tak terdengar oleh dirinya sendiri. Ia tidak yakin ada yang cukup dekat untuk mendengar permohonannya.
"Hanımefendi, uyandınız mı?"
Seorang wanita muncul dalam pandangannya, membungkuk, wajahnya cemas. Almira tidak mengenal siapa dia, tapi untuk saat ini ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanya segelas air di meja, terjangkau oleh mata namun mustahil ia raih dengan tangannya yang gemetar.
"Air..."
"Ne buyurdunuz, Hanımefendi? Anlayamadım," ucap wanita itu bingung.
Apa ia tidak memahami? Padahal ia jelas mengatakan air.
Dengan sisa tenaga, Almira mengangkat tangannya sedikit, menunjuk.
"Ah! Su. Hemen getiriyorum, Hanımefendi!"
Wanita itu lekas mengambil gelas dan menyodorkan kepadanya. Air dingin mengalir cepat di tenggorokannya yang kering, membuatnya bisa bernapas dengan benar.
"Terima kasih..." bisiknya.
Ia kembali merebahkan kepala. Keinginan untuk terlelap lagi begitu kuat, untuk kembali pada sosok kakeknya, memeluk lelaki tua itu, bertanya apakah ia boleh tinggal di dalam damainya lebih lama.
***
Suara pintu yang dibuka membangunkannya. Saat membuka mata, ia mendapati Seda sudah berdiri di samping ranjangnya.
"Almira Hanımefendi, uyandınız."
(Nyonya Almira, anda sudah bangun)
"Evet, Seda..."
(Ya, Seda)
"Şükürler olsun, normale döndünüz."
(Syukurlah, anda kembali normal). Nada lega Seda terdengar jelas.
"Apa maksudmu?" Almira perlahan bangkit, bersandar pada kepala ranjang.
"Saat tidak sadar, Anda berbicara dalam bahasa asing yang tidak kami mengerti," jelas Seda sembari meletakkan segelas air berwarna kecokelatan di nakas.
"Tidak sadar?"
"Ya, Hanımefendi."
Almira memijat pelipisnya yang masih berdenyut. Ingatannya kabur setelah mereka pulang dari pesta menjijikkan itu.
"Aku hanya ingat merasa kedinginan. Setelahnya... entahlah."
"Saya menemukan anda pingsan dan tubuh anda panas sekali. Dokter datang memeriksa. Anda mengigau terus dan membuat kami takut. Erdoğan Beyefendi menunggui anda semalaman," ucap Seda cepat.
"Erdoğan?" ulang Almira pelan, hampir tidak percaya.
"Ya, Hanımefendi. Nah, ini air madu." Seda menyodorkan gelas itu sambil tersenyum kecil, tak menyadari ekspresi tak percaya Almira.