Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #14

Memberi Dan Menerima

Seminggu berlalu sejak kejadian di dapur malam itu. Hari-harinya berjalan sunyi seperti biasa. Sejak melihat sisi Erdoğan yang belum pernah ia kenal sebelumnya, Almira memilih menjaga jarak dan mengamatinya dari jauh.

Namun pagi ini, sesuatu kembali mengusiknya.

Pesan singkat yang ia terima pagi tadi masih berputar di kepalanya. Berita dari Nilüfer membuatnya tidak bisa fokus pada apa pun sejak pagi.

Dan semakin lama ia memikirkannya, amarahnya semakin tak terbendung. Ia tidak bisa lagi menahan diri dan menunggu. 

Dengan emosi yang belum juga reda, ia mengambil kunci mobil dan pergi. Bukan sebagai Almira Yaşaran, tapi sebagai Almira Hassan. Seorang putri yang ingin memastikan satu hal: apakah pengorbanannya sia-sia.

Mobilnya melaju menembus jalanan kota, melewati jembatan Bosphorus menuju Istanbul bagian Asia. Jalanan Üsküdar sore itu ramai, namun Almira nyaris tak merasakannya. Di Nakkaştepe, mobilnya berbelok memasuki kawasan perumahan mewah, disambut deretan mansion berarsitektur klasik.

Mobilnya berhenti di depan rumahnya yang sunyi, seperti selalu.

"Almira Hanım." Seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

"Babam dimana?" 

"Di ruang kerjanya."

Almira menghentikan langkahnya. "Annem?" ia kembali bertanya.

"Di taman belakang."

"Tamam." 

Ia melangkah menuju taman. Ibunya sedang memangkas dahan bunga yang menjuntai, tenggelam dalam kegiatan sore hingga tidak mendengar suara langkah Almira.

"Anne," 

Ibunya terlonjak, lalu wajahnya seketika cerah.

"Kızım!" Ia melepas sarung tangan dan memeluk Almira singkat. "Kenapa tidak bilang kalau mau datang?"

"Maaf, Anne." Almira menyodorkan satu paper bag. "Aku bawakan manisan dan teh chamomile."

Ibunya tersenyum lembut. "Terima kasih, Canım."

"Anne... aku ingin bicara dengan Baba," ucap Almira serius.

Mendengar tujuan utama Almira pulang ke rumah, senyum ibunya sedikit meredup.

"Ah... jadi itu alasan sebenarnya?"

"Anne, bukan begitu—"

"Aku bercanda." Ibunya tersenyum kecil. Ia menepuk lengan Almira. "Temui saja. Dari tadi dia tidak berhenti bekerja."

Almira mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

Ia mengetuk dua kali pintu ruang kerja bercat hitam itu.

"Masuk."

Ayahnya sedang menatap layar komputer. Saat Almira melangkah masuk, tatapan lelaki itu langsung beralih padanya.

"Mira. Duduklah."

Almira duduk, tegang. Ayahnya tampaknya langsung menyadari itu. Ia berdiri dan berpindah duduk di hadapan Almira.

"Ada apa, Mira?"

Almira mengambil napas panjang sebelum berkata, "Apa benar Yaşaran Holding menolak proposal pengajuan pinjaman untuk pabrik baru di Antalya?"

Ayahnya tak langsung menjawab.

"Baba?" tanyanya lagi, lebih pelan.

Yang mengejutkan, ayahnya justru tersenyum kecil. Ia menyandarkan punggung pada kursi, menatap Almira dengan lembut.

"Cepat sekali kabar itu sampai padamu. Aku memang tidak ingin memberitahumu. Aku tidak ingin kau ikut terbebani."

Almira mencondongkan tubuh, wajahnya tidak menyembunyikan kekesalan.

"Tapi Baba, kita sudah menyiapkan segalanya sejak lama," ucapnya frustasi. Sesaat ia ragu melanjutkan kata-katanya.

"Bukankah... bukankah untuk ini aku menikah."

Kalimat itu akhirnya terucap.

Almira mengira ayahnya akan kecewa atau marah. Tapi sebaliknya, hanya ketenangan yang ayahnya tunjukkan.

Lihat selengkapnya