Ciuman Erdoğan datang tiba-tiba, keras dan nyaris membuat Almira kehilangan napas. Bibir pria itu menekan bibirnya tanpa memberi ruang untuk berpikir, membuat tubuh Almira menegang.
Tangannya mendorong dada Erdoğan. Tidak berhasil. Tubuh pria itu bahkan tidak bergeser sedikit pun. Justru semakin mendekat hingga panas tubuhnya memerangkap Almira di antara pintu kamar mandi dan dirinya.
Kenapa dia melakukan ini?
Baru beberapa menit lalu ia merendahkannya, memperlakukannya seperti alat transaksi. Tapi sekarang pria yang sama menciumnya seolah telah menahan itu sejak lama.
Napas Almira tercekat ketika bibir Erdoğan turun ke lehernya. Sentuhan itu membuat tubuhnya bereaksi di luar kendali. Kepalanya menengadah pelan sebelum ia sadar apa yang sedang ia lakukan.
Memalukan.
Tangannya gemetar saat Erdoğan menyentuh lengannya perlahan, turun, lalu berhenti.
"Ah..."
Desahan kecil itu lolos begitu saja. Pipi Almira langsung memanas.
Tidak. Ia tidak boleh seperti ini.
Ia datang untuk membela perusahaannya, bukan untuk—
Namun pikirannya buyar ketika ia merasakan sentuhan pria itu semakin intim. Entah sejak kapan semuanya berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia kendalikan.
Ia ingin marah. Ingin mendorong Erdoğan menjauh. Tapi tubuhnya mengkhianatinya sedikit demi sedikit.
Karena ini Erdoğan.
Dan bagian paling menyedihkan dari semua itu adalah, hatinya sudah lebih dulu memilih pria ini jauh sebelum malam ini terjadi.
"Ssst..." bisik Erdoğan rendah di telinganya. "Berbaringlah."
Almira seharusnya menolak. Namun tubuhnya bergerak lebih dulu.
Kasur terasa dingin di punggungnya, berbanding terbalik dengan sentuhan Erdoğan yang membuat tubuhnya panas dan pikirannya kosong.
Ciuman pria itu berpindah perlahan, meninggalkan jejak panas yang membuat jemarinya tanpa sadar mencengkeram seprai.
Almira merasa disentuh sebagai seorang wanita. Dan perasaan itu justru membuat dadanya sakit. Karena ia tidak tahu apakah Erdoğan menginginkannya atau hanya sedang melampiaskan sesuatu yang lain.
Ciuman Erdoğan berlanjut, perlahan mengikis sisa pertahanan Almira. Tubuhnya menegang keras.
"Apa yang kau—"
Kalimatnya terputus menjadi napas gemetar.