Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #16

Tanpa Syarat

Jam digital di nakas menunjuk angka 07.15. Almira menunda turun ke bawah, berharap cukup terlambat untuk melewatkan sarapan bersama Erdoğan. Tubuhnya masih menyimpan hangat ingatan semalam—dan justru karena itu ia ingin bersembunyi.

Setiap kali bayangan sentuhan pria itu muncul, dadanya berdebar, pipinya memanas. Ada rasa malu yang tak tahu harus ia letakkan di mana.

Saat membuka pintu kamarnya dan berjalan melewati lorong, langkahnya otomatis melambat begitu mendekati pintu kamar Erdoğan.

Dia pasti sudah di bawah, harapnya.

Namun harapan itu runtuh seketika.

Pintu kamar Erdoğan terbuka perlahan. Derit halusnya membuat Almira tersentak. Pria itu keluar dengan pakaian rapi, aroma parfum bercampur sabun yang menenangkan namun juga mengusik hatinya. Aroma yang langsung menyeretnya kembali ke malam sebelumnya.

Almira panik. Ia ingin berbalik, tetapi terlambat.

Tatapan Erdoğan sempat menegang, seperti tidak siap melihatnya. Hanya sedetik—namun cukup untuk membuat jantung Almira berantakan.

Lalu, tanpa sepatah kata, pria itu mengalihkan pandangan dan melangkah turun.

Almira menghela napas panjang sebelum menyusul. Namun di ruang makan, kursi Erdoğan kosong.

"Di mana Erdoğan?" tanya Almira pada Seda yang sedang menyiapkan sarapan untuknya.

"Erdoğan Beyefendi sudah berangkat kerja.

"Oh..." suara Almira menurun. Ia memang ingin menghindar, tetapi ketika benar-benar tidak melihat Erdoğan, ia merasa kosong. 

Almira menatap kursi Erdoğan lama, lalu mengalihkan pandangan.

Ponselnya berbunyi dan ia segera mengangkatnya.

"Mira! Mereka menyetujuinya!"

Almira langsung duduk tegak. "Apa?"

"Proposal Antalya! Revisi dari Holding sudah masuk pagi ini. Çok şükür, akhirnya lolos juga!"

Suara Nilüfer meledak penuh kebahagiaan, membuat Almira tertegun. Kemudian perlahan bibirnya tersenyum. Ia menutup sambungan telepon itu lalu mengetik pesan dengan tangan gemetar bahagia.

Almira : Terima kasih. Proposalnya disetujui.

Ia tidak mengharap ada balasan segera. Erdoğan pasti sedang menyetir mobil.

Namun balasan itu datang hampir seketika.

Apa dia masih di garasi?

Erdoğan : Aku hanya membayar apa yang sudah kudapat. Tidak perlu berterima kasih.

Tetap dingin dan sinis. Tapi anehnya, Almira tidak terluka.

Almira : Aku tahu. Tapi aku tetap ingin mengucapkannya. Kau sudah membantu kami.

Almira menunggu. Namun tidak ada balasan lagi.

Lihat selengkapnya