Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #17

Pesan Yang Tertinggal

Almira memunguti pakaian yang berserakan di lantai. Setelah memastikan tubuhnya tertutup sweater hangat dan celana panjang, ia menatap sekilas ke arah tempat tidur.

Erdoğan berbaring menyamping, punggungnya menghadap ke arahnya. Napas pria itu teratur, stabil, seolah tidak ada badai yang terjadi di antara mereka beberapa jam lalu.

Ada perih yang menusuk di pangkal pahanya ketika ia melangkah keluar kamar. Rasa sakit yang samar namun nyata, seperti bekas dari sesuatu yang sudah dipilihnya sendiri.

Namun tak ada penyesalan. Yang mengganggunya justru hal lain.

Setelah semua yang terjadi, Erdoğan bahkan tidak menoleh saat ia pergi. Seolah malam itu tidak mengubah apa pun.

---

Uap hangat memenuhi kamar mandi. Almira merendam tubuhnya dalam bathtub, membiarkan air menenangkan sendinya yang tegang. Aroma sabun dan essential oil melayang perlahan, menghaluskan udara.

Ia menengadah, matanya terpejam. Dan di tengah keheningan itu, ia berbisik lirih, begitu pelan hingga suaranya seperti tenggelam dalam permukaan air.

"Beristirahatlah dengan tenang... Ayşe."

Untuk beberapa saat ia hanya duduk diam, membiarkan keheningan menjawab doa yang tak mungkin dibalas siapa pun

***

Pagi menjelang. Almira sengaja turun lebih awal. Bukan karena ingin segera bertemu Erdoğan, melainkan karena ia tahu kakinya yang gemetar tak akan sanggup melangkah masuk ke ruang makan jika pria itu sudah lebih dulu berada di sana.

Suara langkah sepatu terdengar dari ruang tengah.

Ia mengoleskan selai ke atas roti panggang, berusaha terlihat sibuk. Menyembunyikan jantungnya yang berdebar.

"Günaydın."

Almira menahan napas sesaat sebelum mendongak. Erdoğan berdiri di ambang pintu, menatapnya.

"Günaydın," balasnya pelan. Ia bersyukur dan lega, suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada yang ia rasakan.

Hening sejenak.

Erdoğan mendekat, menarik kursi dan duduk di seberangnya. Ia mengambil roti panggang, menuangkan kopi, lalu mulai menggulir layar tablet di tangannya.

Tak ada yang berbeda.

Atau setidaknya, begitu pikir Almira pada awalnya.

Kekecewaan kecil muncul tanpa diminta.

"Apa kau masih merasa tidak nyaman?"

Almira tertegun. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga ia hampir tersedak.

"Apanya?" tanyanya bingung.

Lalu ia mengerti.

Panas langsung menjalar ke wajahnya.

"Oh." Ia menunduk cepat. "Tidak... tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."

Erdoğan mengangguk pelan. "Baik."

Hanya itu.

Namun entah kenapa, satu kata sederhana itu terasa jauh lebih hangat daripada yang seharusnya.

Tak lama kemudian Erdoğan berdiri.

"Aku pergi dulu."

Almira mengangguk.

Ia menunggu hingga suara langkah pria itu menghilang dari rumah, barulah ia menunduk menatap cangkir tehnya. Senyum kecil tanpa sadar muncul di sudut bibirnya.

Mungkin jawaban yang ia tunggu memang tidak datang dalam bentuk yang ia bayangkan.

Namun pagi ini, untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang berubah.

Dan perasaan itulah yang membawanya memutuskan pergi ke satu tempat.

Tempat ia ingin meminta izin untuk memulai babak baru dalam hidupnya.

***

Pemakaman Karacaahmet sunyi seperti sebuah museum raksasa. Hamparan batu nisan tua, tanah lembap, dan pepohonan tinggi menjadikannya tampak agung sekaligus melankolis.

Almira berjalan perlahan sambil membawa buket bunga carnation. Setiap langkah menimbulkan gema kecil di jalan batu.

Beberapa meter di depan, ia melihat seorang pria muda duduk bersimpuh di depan nisan bertuliskan Ayşe Hassan.

Suara pria itu lirih, namun penuh pecahan rasa sakit yang sulit disembunyikan.

"Aku merindukanmu... Aku seharusnya tidak datang, tapi... aku begitu merindukanmu. Aku sendiri sekarang. Andai saja—"

Langkah kecil Almira membuat pria itu terkejut. Ia menoleh tajam, seolah merasa diserang.

"Siapa kau?!"

Lihat selengkapnya