Sepulang dari pertemuannya dengan Nilüfer, Almira tidak langsung turun dari mobil.
Mesin sudah mati sejak beberapa menit lalu, tetapi tangannya masih berada di atas kemudi.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Mert Hacıoğlu.
Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan degup jantungnya. Satu petunjuk membawanya ke satu nama keluarga.
Yaşaran.
Almira membuka mata, melihat jam di lengan kirinya. Pukul 6.15. Ia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Pukul tujuh malam, Almira dan Erdoğan duduk berhadapan di meja makan.
Tak banyak yang mereka bicarakan. Namun keheningan malam ini terasa berbeda. Bukan keheningan yang biasa mereka bagi, yang nyaman dan tidak perlu diisi. Ini keheningan yang terasa berat di satu sisi.
Almira berusaha fokus pada makanannya. Beberapa kali ia memaksa diri mengambil suapan berikutnya, meski pikirannya terus melayang ke hal lain.
Di seberang meja, Erdoğan sesekali mengangkat pandangan dari piringnya. Dan setiap kali tatapan itu singgah terlalu lama, tangan Almira tanpa sadar berhenti bergerak.
"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?"
Almira tidak langsung menjawab. Untuk sesaat ia ingin menceritakan semuanya. Tentang hotel itu. Tentang Mert Hacıoğlu. Tentang nama perusahaan yang muncul di ujung pencarian.
Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya.
Ia bahkan belum tahu apa yang sebenarnya sedang ia hadapi.
"Tidak," katanya. "Tidak ada."
Erdoğan tidak membalas.
Almira melihat rahang Erdoğan mengeras, gerakan kecil yang orang lain mungkin tidak akan menangkap. Namun Almira tahu, itu salah satu tanda yang muncul saat Erdoğan tidak menyukai sesuatu.
Saat kembali ke kamarnya, pikirannya kembali terseret ke arah yang sama.
Mert.
Hacıoğlu Property.
Yaşaran Holding.
Dan dua kata sederhana yang menjadi awal semuanya.
Kekasih. Pemilik hati.
Almira kembali mencari di laman berita. Kali ini pencariannya mundur ke tahun saat kecelakaan Ayşe.
Nihil.
Hanya berita tentang pemilihan ulang walikota Istanbul yang diwarnai protes, berita politik tentang invasi keluar negeri. Bahkan ada laman lokal yang memberitakan tentang bayi yang selamat setelah jatuh dari apartemen lantai dua.
Tapi tidak ada berita mengenai kecelakaan yang menimpa putri seorang pengusaha yang juga tunangan putra pemilik perusahaan multinasional terbesar.
Itu tidak masuk akal.
Ayşe bukan gadis anonim. Dengan status keluarganya, satu berita kecil saja seharusnya cukup untuk memenuhi halaman gosip berhari-hari.
Lalu ada satu hal lain yang lebih mengganggunya.
Tahun kecelakaan itu. Tahun yang sama ketika Hacıoğlu Property bangkrut.
Almira membuka kolom pencarian dan mengetik nama perusahaan itu.
Kali ini, ia menemukan sesuatu.
Dengan tangan gemetar, Almira mengklik berita itu.
Akuisisi Hacıoğlu Property oleh Yaşaran Holding setelah mengalami kebangkrutan akibat pandemi dan kontroversi yang sempat menyeret nama perusahaan.
Titik. Itu saja.
Tidak ada nama Ayşe.
Tidak ada nama Mert.
Tidak ada penjelasan apa pun.
Almira menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi.
Buntu lagi.