Almira memarkirkan mobilnya di lahan parkir rumah tahanan Metris. Tangan dan tengkuknya lembap oleh keringat dingin meski udara tidak panas. Jantungnya masih berdebar sejak melewati gerbang dan pemeriksaan petugas militer tadi.
Bangunan besar bercat merah itu tampak lebih suram dari foto yang ia lihat di internet. Dinding tebal, jendela kecil, dan udara kaku di sekitarnya membuat bulu kuduknya meremang. Tidak pernah terpikir ia akan menginjakkan kaki di tempat seperti ini.
Lanjutkan, Almira. Kau sudah sejauh ini.
Ia menarik napas panjang, mengangkat dagu, lalu melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam gedung.
Di dalam, suasana senyap. Beberapa petugas penjara berseragam biru muda berjalan cepat tanpa menoleh. Tidak ada sapaan, tidak ada wajah ramah. Hanya langkah keras sepatu dan dengusan singkat para petugas.
Rasa gugup merayap. Almira berdiri sejenak, mencoba mencari tahu apa yang harus dilakukan. Ia baru melihat meja kecil di sudut ruangan, tempat seorang petugas menulis sesuatu tanpa ekspresi.
Almira mendekat. "Aku ingin mengunjungi tahanan bernama Süleyman Doğulu."
Petugas itu hanya mengangkat kepala sebentar. "Tanda pengenal?"
"Apa?"
"Kartu identitas," ulangnya datar.
"Oh..." Almira menelan ludah.
Ia lupa. Tentu mereka akan mencatat identitas pengunjung. Dan nama 'Yaşaran' tercantum di daftar kunjungan? Tidak mungkin.
Ia berpura-pura mengaduk isi tasnya. "Kurasa aku lupa membawanya. Maaf."
Tanpa menunggu reaksi, ia buru-buru keluar gedung. Udara luar terasa sedikit lebih ringan, tetapi rasa kecewa menghantamnya keras.
Ia berjalan cepat ke arah parkir. Ketika sebuah suara memanggil dari belakang, Almira pura-pura tak mendengar.
"Tunggu!"
Langkahnya makin cepat. Ia sudah membuka pintu mobil ketika tiba-tiba seseorang menutup pintu itu kembali.
"Kubilang tunggu," suara pria itu terdengar geram. "Jalanmu cepat sekali."
Almira tersentak dan berbalik. "Siapa kau? Apa perlumu denganku?"
Pria itu tinggi, berambut hitam agak panjang yang tampak tidak disisir dari pagi. Wajahnya belum dicukur, pakaiannya sederhana—jaket kulit dan jeans yang warnanya sudah pudar. Tipe pria yang tidak peduli tampilan selama berfungsi.
"Aku yang harus bertanya," balasnya sinis. "Siapa kau? Kenapa kau ingin menemui Süleyman Doğulu?"
Almira terdiam sesaat, rasa takut mencuat.
Bagaimana dia tahu?
"Aku mendengarmu bicara dengan sipir tadi," lanjut pria itu.
Almira membuang napas pelan—lega sekaligus kesal.
"Bukan urusanmu," katanya dingin. Ia kembali hendak membuka pintu mobil. Namun pria itu kembali bicara.
"Itu urusanku. Karena Süleyman Doğulu adalah pamanku."
Almira menoleh cepat. Ia mempelajari wajah pria itu.
Benarkah?
"Lalu?" tanyanya curiga.
"Kau datang karena kasusnya?"
Almira tidak menjawab.
"Kalau ya, percuma." Pria itu menyilangkan tangannya. "Mulutnya tertutup rapat, seperti botol bir baru."
Almira mengangkat alisnya.
Pria asing itu menatapnya sebentar. "Wanita kaya sepertimu, mengunjungi tahanan miskin," ucapnya datar. "Pasti ada alasannya."
Almira merasakan panas di dadanya. "Efendim, kita tidak saling kenal. Urusanku bukan urusanmu."
Ia berbalik lagi. Tetapi sekali lagi pria itu menahannya.
"Sepertinya kita pernah bertemu."
Almira memutar bola matanya.
Apa lagi sekarang?
Pria itu mengamatinya lebih lama, seperti benar-benar sedang mengingat.
"Hotel N Karaköy," ucapnya lagi. Ia mengangguk pelan, lebih ke dirinya sendiri. "Ya. Kau wanita itu."
Wajah Almira memanas. Ia bahkan tidak mengingat pernah bertemu pria ini.
"Dan hari ini kau mencari Süleyman Doğulu." Pria itu mencondongkan tubuhnya sedikit, membuat Almira refleks mundur, punggungnya membentur pintu mobil. "Kau sedang menyelidiki keluarga Hacıoğlu?"
Almira tidak menjawab. Tubuhnya menegang seketika. Langkahnya yang tadi siap pergi sekarang ia urungkan.