Almira tidak ingat persis kapan ia sampai di rumah.
Yang ia ingat hanyalah kafe kecil itu, bau kopi dan debu di lantai dua, serta suara Ömer yang menyebut laporan polisi dengan nada orang yang sudah terlalu lama menyimpan kemarahan.
Sisanya kabur.
Jalanan yang ia lewati, suara klakson yang bersahutan di kejauhan, lift yang membawanya naik ke lantai dua.
Saat memasuki rumah, Almira memaksa dirinya kembali ke rutinitas seperti biasa.
Pukul tujuh malam, ia dan Erdoğan duduk berhadapan di meja makan.
Mereka berbicara seperlunya. Tentang pekerjaan. Tentang harinya. Tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak perlu dipikirkan.
Almira menjawab di saat yang tepat. Tersenyum dengan porsi yang pas.
Namun sebagian pikirannya tetap tertinggal di sebuah kafe kecil yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
Setelah makan malam usai dan ia kembali ke kamarnya, barulah keheningan benar-benar menyusulnya.
Ia duduk di sisi ranjang hingga larut tanpa menyalakan lampu.
Nama itu masih ada di sana. Tidak tumbuh menjadi tuduhan. Tidak berubah menjadi kesimpulan. Hanya diam di sudut pikirannya seperti batu kecil di dalam sepatu.
Belum cukup menyakitkan untuk membuatnya berhenti berjalan. Tapi terasa di setiap langkah.
Keesokan harinya Erdoğan berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia bahkan melewatkan sarapan dan hanya menyesap kopinya sekali sebelum pergi.
Almira menatap kursi kosong di hadapannya lebih lama dari yang seharusnya.
Rumah terasa lebih sunyi tanpa kehadiran Erdoğan.
Pandangannya beralih ke arah ruang tengah. Sesaat ia hanya duduk diam, jemarinya melingkari cangkir teh yang mulai kehilangan uap hangatnya.
Lalu ia bangkit.
Kakinya menapaki anak tangga perlahan, satu demi satu. Setibanya di lantai atas, langkahnya melambat.
Ia berdiri cukup lama di lorong, seolah memberi dirinya kesempatan terakhir untuk berbalik.
Namun pada akhirnya, kakinya tetap membawanya ke satu arah.
Pintu ruang kerja Erdoğan tampak tebal dan kokoh. Almira membuka pintu itu dengan tangan dingin dan sedikit gemetar. Jantungnya berdetak cepat, rasanya seperti tubuhnya tahu ia sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.
Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan dari pencarian ini.
Apakah ia sedang mencari bukti keterlibatan Erdoğan?
Atau justru berharap tidak menemukan apa pun?
Ruang kerja itu rapi seperti biasa. Rapi dengan cara yang membuat orang merasa tidak ada yang boleh terusik di dalamnya.
Almira berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum melangkah masuk.
Ia berjalan ke rak buku. Jemarinya menelusuri punggung buku-buku milik Erdoğan: Strategi & Bisnis, Psikologi & Produktivitas, Finansial & Investasi. Buku-buku yang selalu membuat Almira merasa kecil dan tidak cukup pintar.
Tak ada yang aneh. Tak ada yang mencurigakan. Dan itu membuatnya lega.
Dan frustrasi.
Dua perasaan yang saling bertentangan—dan sama-sama mengurasnya.
Ia beralih ke meja kerja. Meja itu terlalu rapi untuk menyembunyikan apa pun. Komputer besar, pulpen — tak lebih dari itu. Laci nakas terbuka tanpa kunci, hanya buku catatan kecil yang bahkan tidak menarik perhatian.
Almira menarik napas. Masih kosong. Masih buntu.
Ia keluar dan berhenti di lorong. Detik berikutnya ia sudah menekan gagang pintu kamar Erdoğan.