Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #22

Apa Yang Kau Sembunyikan, Ayşe?

Almira duduk di depan meja kerjanya. Catatan-catatan yang ia buat masih terbuka di hadapannya saat ia meletakkan ponsel di samping buku itu.

Layar ponselnya sudah gelap, tetapi pandangannya belum beralih.

Kesepakatannya dengan Ömer.

Kau butuh aku.

Ia tidak suka kalimat itu. Tapi lebih tidak suka bahwa kalimat itu benar.

Ia bangkit, menatap Istanbul dari balik kaca tinggi. Di luar, kota ini bergerak seperti biasa, tidak tahu dan tidak peduli bahwa di kamar ini ada seorang wanita yang baru saja setuju untuk menyelidiki suaminya sendiri.

Almira memejamkan mata.

Besok ia harus bertemu Ömer lagi. Dan entah bagaimana, ia harus menjelaskan itu pada Erdoğan.

Keesokan harinya, saat sarapan Almira meminta izin untuk mengunjungi orang tuanya.

"Aku mungkin akan pulang malam."

Erdoğan mengangkat pandangan dari tabletnya.

"Hm."

Hanya itu. Ia tidak bertanya, tidak keberatan, bahkan tidak menunjukkan sedikit pun rasa ingin tahu.

Almira harusnya merasa lega. Tapi ia tidak tahu kenapa reaksi itu justru membuat dadanya terasa kosong.

Di dalam mobil, pikirannya sibuk sendiri.

Semua ini berawal dari satu nama.

Ayşe.

Dan jika ada sesuatu yang tersisa dari Ayşe, maka itu hanya ada di satu tempat. Rumah orang tuanya.

Tapi sebelum itu, ia akan menemui Ömer.

Ia belum tahu apakah pria itu bisa dipercaya. Namun untuk saat ini, Ömer adalah satu-satunya orang yang masih bersedia membuka kembali kematian Ayşe.

Hampir satu jam kemudian, ia kembali duduk berhadapan dengan Ömer di lantai dua bangunan kafe itu. Tempat itu tetap sepi, tanpa pengunjung. Hanya mereka berdua.

Ömer menatap Almira lebih lama dari sebelumnya. Tidak setajam atau sinis seperti pertemuan mereka yang lalu. Lebih hati-hati.

Almira menyadari perubahan itu dan tidak yakin apakah ia menyukainya.

Pandangannya berkeliling. "Apa tempat ini memang selalu sepi?"

"Ini bukan kafe sungguhan."

Almira mengernyit, tapi Ömer tidak memberi penjelasan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, kedua lengannya menyilang.

"Jadi," katanya. "Apa yang kau dapat?"

Almira menarik napas. "Tidak ada."

Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Aku bertanya pada beberapa orang di rumah. Tidak ada yang mau bicara soal Ayşe."

"Semua orang?" tanya Ömer.

"Semua yang aku coba."

Ömer mengangguk pelan, seperti mengkonfirmasi sesuatu yang sudah ia duga. "Itu bukan kebetulan."

Almira tidak menanggapi.

"Aku akan mencari Hakan Narçalı," Ömer kembali berkata.

"Siapa dia?"

"Orang yang memberi pekerjaan pada pamanku malam itu. Pekerja asli Hacıoğlu Property."

Dada Almira menegang. Ia terdiam sesaat.

"Kau yakin dia tahu sesuatu?" tanyanya kemudian.

"Tidak." Ömer menyesap kopinya. "Tapi aku lebih yakin dia tahu sesuatu daripada tidak tahu apa-apa."

Almira bersandar ke kursi. Di luar jendela, jalanan mulai ramai. Anak-anak berlari di antara rumah-rumah warna pudar, seorang perempuan tua menyirami pot bunga di ambang pintu.

"Baik." Almira bangkit. "Aku juga akan mencoba caraku sendiri."

Lihat selengkapnya