Almira mengembalikan diary itu persis seperti semula.
Buku merah itu kembali ia sembunyikan di dasar laci nakas. Kunci emas mungil kembali ke tempatnya di laci keenam, di balik sisi kayu yang terasa berbeda.
Seperti ia tidak pernah masuk ke sini.
Ia berdiri, melihat sekeliling kamar sekali lagi. Semua masih sama. Kandelir kristal, ranjang besar, dinding yang terlalu rapi.
Lalu ia turun ke ruang makan, memakan makanan istimewa yang dimasak ibunya, dan tersenyum pada waktu yang tepat.
---
Almira tidak ingat kapan ia mulai menyeberangi jembatan.
Satu momen ia masih di halaman depan rumah orang tuanya, mesin mobil baru menyala, tangan di atas kemudi. Momen berikutnya, lampu-lampu Bosphorus sudah di belakangnya dan jalanan di depan menanjak ke arah Beşiktas.
Di antara kedua momen itu, ia tidak benar-benar hadir. Pikirannya masih berada di laci keenam. Masih di buku diary merah yang halamannya sobek. Masih di satu kata yang belum selesai.
Jangan...
Jangan apa? Jangan kenapa?
Ia tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu membuat segalanya terasa lebih berat dari jawaban apa pun yang bisa ia pikirkan.
Yang ia tahu, tangannya tetap berada di atas kemudi, mobilnya tetap bergerak, dan jalan Cevdet Paşa semakin dekat meski ia tidak benar-benar ingin pulang.
Laju mobilnya melambat saat rumah itu terlihat. Lampu depan garasi dan lampu taman di lantai dua menyala. Tapi lantai di atasnya gelap.
Almira mematikan mesin mobil. Ia duduk sebentar di dalam mobil yang sekarang sunyi. Lalu turun.
Ia melangkah masuk ke ruang tengah. Hak sepatunya menggema di lantai marmer, terlalu nyaring untuk malam yang ia harap berlalu tanpa kejadian.
Dalam hati ia berdoa singkat agar Erdoğan sudah berada di kamarnya.
Namun seperti selalu, hukumannya hanya ditunda. Erdoğan berdiri di tengah ruangan. Diam, tegak, tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri, seperti ia memang sudah di sana sejak lama.
Ia melangkah mendekat perlahan. Tatapannya lurus menembus mata Almira.
Almira ingin mundur, tetapi kakinya justru tidak bergerak.
"Apa kau menikmati acara reuni keluargamu?" tanya Erdoğan.
Suaranya tenang. Terlalu tenang untuk malam selarut ini.
"Ya." Almira mempertahankan senyumnya. "Maaf aku pulang larut. Kalau bersama orang tuaku, aku sering lupa waktu."
Erdoğan tidak menjawab. Ia hanya menatapnya lebih lama, seakan mencoba membaca sesuatu dari wajahnya.