Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #24

Dua Sisi

Seperti janjinya, Erdoğan pulang lebih awal. Ia datang dengan senyum di wajah dan sekotak baklava di tangan. Gerak tubuhnya terlalu santai untuk pria yang semalam berdiri diam di ruang tengah, menunggunya pulang.

Almira menerima kotak itu, mengucapkan terima kasih, dan mempertahankan senyum cukup lama untuk terlihat meyakinkan.

Erdoğan menatapnya sejenak, seperti ingin memastikan sesuatu. Almira menahan diri agar tidak menunduk.

Makan malam berlangsung hangat. Terlalu hangat. Erdoğan banyak bicara, sesekali tertawa kecil, membicarakan hal-hal ringan yang biasanya tak ia pedulikan. Almira menimpali seperlunya, mengangguk, tertawa di waktu yang tepat.

Seperti berjalan di atas lantai yang licin.

Keesokan paginya tidak jauh berbeda.

"Günaydın," sapa Erdoğan ramah sambil menuangkan kopi. "Apa rencanamu hari ini?"

"Tidak ada," balas Almira. "Aku di rumah saja"

"Istanbul kota yang besar." Ia mengoleskan selai aprikot ke rotinya, tidak terburu-buru. "Pasti masih banyak tempat yang belum kau lihat. Jalan-jalanlah. Nikmati harimu."

Kalimat itu sederhana, nadanya santai.

Almira tersenyum, tapi jemarinya mengencang di gagang sendok. "Tentu."

Di pintu depan, Erdoğan mendekat dan mengecup pipi Almira, tepat di lesung pipitnya. Sentuhan singkat, nyaris lembut.

Tubuh Almira mengejang.

"Aku akan pulang larut," kata Erdoğan. "Ada pertemuan di Ankara."

Almira mengangguk. Senyumnya bertahan sampai pintu ditutup.

Dua menit.. lima menit. Saat ia yakin Erdoğan sudah meninggalkan halaman depan, senyum itu luruh.

Almira menghembuskan napas berat. Kamarnya kini terasa sempit, tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman.

Ponselnya bergetar.

Ömer : Aku ingin bertemu. Tempat dan waktu seperti kemarin.

Almira menatap layar sebelum membalas.

Almira : Aku tidak bisa.

Balasan datang cepat.

Ömer : Ini penting. Aku harus menyerahkannya langsung.

Almira meletakkan ponsel di meja. Mengambilnya lagi. Meletakkan lagi.

Ia berjalan ke jendela, menatap lama Bosphorus yang berkilau di bawah cahaya pagi.

Namun pandangannya kembali ke meja kerja. Ke ponselnya.

"Sekali ini saja," gumamnya. "Aku harus tahu."

Ia mengambil kunci mobilnya sendiri dan keluar.

***

Lihat selengkapnya