Enam tahun lalu
Ia berdiri membelakangi meja kerjanya, menatap kota dari balik kaca besar. Istanbul membentang tenang di bawah sana, seolah tak pernah peduli bahwa satu kehidupan sedang retak perlahan.
Di meja, foto-foto berserakan. Ia tidak perlu menyentuhnya lagi.
Tangannya mengeluarkan ponsel.
"Alo."
"Aku merindukanmu. Kita bertemu malam ini?"
Di ujung sana, Ayşe menghela napas.
"Tidak malam ini, Erdoğan. Aku lelah."
Ia diam sejenak.
"Besok pagi, kalau begitu."
"Besok pagi."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga," balas Ayşe singkat.
Sambungan terputus.
Ia menatap layar ponsel yang gelap. Pesan dari sepuluh menit lalu kembali ada di kepalanya.
"Ayşe Hanım di club."
Besok pagi.
========
Sekarang
Foto-foto seorang wanita muncul di layar ponselnya satu persatu.
Ia mengenali semuanya. Cara berjalan, cara menoleh, cara bahunya turun sedikit saat memasuki ruangan yang tidak ia kenal. Detail-detail yang hanya diperhatikan orang yang sudah lama mengamati.
Almira.
Pesan masuk menyusul.
"Almira Hanım berada di dalam kafe lima belas menit.
Tidak ada yang keluar setelahnya."
Erdoğan menatap pesan itu lama. Jari-jarinya mengetat di tepi ponsel.
Lalu ia mengunci layar.
Besok pagi.
***
Almira memasuki ruang makan dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya.
Erdoğan sudah duduk. Santai, tanpa jas, hanya polo shirt dan celana bahan. Ia menjadi versi dirinya yang lebih ringan. Versi yang Almira tidak cukup kenal.
"Günaydın," sapanya ramah.