Kesunyian rumah ini tidak pernah terasa sama dua kali.
Kadang Almira menyukainya. Tidak ada yang menuntut apa pun darinya. Tidak ada percakapan yang harus ia jaga. Tidak ada tatapan yang harus ia hadapi.
Tapi malam ini berbeda.
Wajah Erdoğan masih melekat jelas di kepalanya. Cara pria itu mengantarkannya pulang dari Balat, berhenti tepat di depan pintu garasi, tidak lebih jauh. Senyumnya muncul, lalu lenyap bahkan sebelum Almira sempat memalingkan wajah.
"Aku masih ada urusan."
Itu saja.
Hari pertama, Almira masih memeriksa ponselnya setiap kali layar menyala.
Hari kedua, ia mulai menatap kursi makan yang kosong setiap pagi dan malam.
Hari ketiga, ia berdiri terlalu lama di depan jendela kamar. Menatap setiap mobil yang melintas sebelum menyadari bahwa itu bukan mobil Erdoğan.
Hari keempat, ia berhenti menunggu suara mesin mobil di malam hari.
Namun setiap kali pintu depan terbuka, kepalanya tetap menoleh.
Tidak ada pesan. Tidak ada penjelasan.
Balat masih terasa seperti sesuatu yang belum selesai.
Bukan jalanannya.
Bukan teh yang terlalu panas.
Bukan kafe kecil itu.
Melainkan semua hal yang tidak dikatakan di sana.
Dan Almira tahu satu hal sekarang.
Ia sudah melangkah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak tahu.
Pagi hari kelima. Ia menelepon. Berdering sekali. Dua kali. Lima kali.
Ia tetap menatap layar meski nada sambung itu sudah lama berhenti. Lalu meletakkan ponsel di meja dan turun ke dapur. Ia membuat teh, membiarkannya dingin, lalu kembali ke kamar.
Ponselnya masih gelap.
Ömer pun diam. Tidak ada kabar. Tidak ada perkembangan. Tidak ada pesan.
Almira menunggu sampai keesokan harinya sebelum akhirnya menelepon.
Kali ini diangkat.
"Alo."
"Ya."
Suara Ömer terdengar berbeda. Lebih dingin. Lebih jauh.
"Kau membaca pesanku?"
Hening.
"Ömer?"
"Ya."
Akhirnya.
Satu kata sederhana itu membuat Almira menutup mata sesaat. Setidaknya seseorang menjawab.
"Berhentilah, Mira."
Almira menegakkan tubuhnya. "Apa maksudmu?"
"Jangan hubungi aku lagi."
Untuk sesaat ia tidak menjawab.
Empat hari.
Empat hari tanpa kabar dari Erdoğan.
Dan sekarang Ömer mengatakan hal yang sama dengan cara berbeda.
Pergi.
"Kenapa?"
Tarikan napas berat terdengar dari ujung sana.
"Karena ini sudah cukup."
"Cukup untuk siapa?"
Tidak ada jawaban.
"Untukmu?" lanjut Almira.
Ömer diam.
Almira mengenali diam itu.
Bukan diam yang tidak memiliki jawaban. Tapi diam yang memiliki terlalu banyak.
"Kita bertemu."
Tidak ada jawaban.
"Di markasmu."