Saat mereka kembali ke kafe di tepi Bosphorus, langit sudah sepenuhnya gelap.
Ömer memarkir mobil pinjaman itu tidak jauh dari tempat Almira meninggalkan mobilnya pagi tadi.
Tidak ada yang langsung turun. Mesin masih menyala. Suara pelan pendingin udara memenuhi ruang sempit di antara mereka.
"Mira."
Almira menoleh.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan apartemen itu, suara Ömer benar-benar sampai ke telinganya.
"Kau yakin pulang ke rumah itu?"
"Hm."
"Apa tidak lebih baik kau pulang ke rumah orang tuamu dulu?"
"Tidak."
Almira kembali menatap ke depan, seakan mempersiapkan dirinya untuk sesuatu yang belum ia pahami. Lalu membuka pintu dan turun.
Angin malam dari Bosphorus menyentuh wajahnya. Dingin dan nyata. Berbeda dengan semua yang terjadi beberapa jam terakhir.
Ia berjalan menuju mobilnya sendiri. Tidak menoleh lagi. Tidak melihat apakah Ömer masih berada di sana.
Saat mesin mobil menyala, nama itu kembali muncul di kepalanya.
Yaşaran Bey.
Dua kata sederhana. Dua kata yang mengubah segalanya.
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu Istanbul berpendar di sepanjang jalan. Bosphorus berkilau di kejauhan. Kota bergerak seperti setiap malam, tidak peduli bahwa dunia seseorang baru saja runtuh beberapa jam sebelumnya.
Almira memegang kemudi terlalu erat. Beberapa kali ia menyadari dirinya melewati lampu lalu lintas tanpa benar-benar mengingat warnanya.
Tubuhnya mengemudi, tapi pikirannya masih tertinggal di sebuah apartemen tua di Çorlu. Di lorong sempit yang berbau karbol. Di depan seorang pria yang gemetar ketakutan saat menyebut satu nama.
Yaşaran Bey.
Saat mobilnya berhenti di depan garasi rumah, Almira baru menyadari bahwa perjalanan itu telah berakhir. Ia melihat sekilas ke kaca spion dan mendapati Ömer masih mengikutinya. Lampu mobil itu menyala beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Almira membuka pintu lalu turun. Ia berdiri sejenak, menunggu tubuhnya kembali patuh.
Lantai atas gelap. Almira melihat mobil Erdoğan di garasi. Jantungnya berdenyut keras sekali, lalu menjadi sunyi.
Ia melangkah ke dalam rumah, menaiki tangga perlahan. Setiap anak tangga terasa seperti keputusan yang tidak bisa ditarik kembali.
Saat ia membuka pintu kamar dan menyalakan lampu, ia tidak terkejut. Tapi tubuhnya tetap berhenti sebentar.
Erdoğan berdiri di depan jendela, membelakanginya. Bahunya tegak. Ia tidak bergerak saat lampu menyala, tidak berbalik saat pintu terbuka, seakan sudah tahu sejak tadi kapan Almira akan tiba.
Tas Almira terlepas dari genggamannya. Bunyi kecilnya menggema di kesunyian.
"Darimana?"
Satu kata. Diucapkan dengan punggung yang masih membelakanginya. Almira membuka mulutnya, tapi tidak ada yang keluar.
Nama itu masih berdengung di kepalanya, bercampur dengan bau beton lembap dan suara napas Hakan Narçalı yang gemetar.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" lanjut Erdoğan.
Kini ia berbalik. Tatapannya tidak menunjukkan kemarahan. Ia sedang menilai, seolah mencoba menentukan seberapa banyak yang sudah Almira ketahui.
"Erdoğan..."
Nama itu keluar pelan. Seperti permohonan, bukan panggilan.
Dalam beberapa langkah, Erdoğan sudah di hadapannya. Tangannya mencengkeram pergelangan Almira. Tidak menyakitkan, tapi tidak memberi pilihan. Ia menyeretnya ke ranjang dan menjatuhkan tubuh Almira ke atas seprai.
"Jawab aku."
Almira menggeleng. Air mata datang tanpa ia izinkan.
Apa yang terjadi setelahnya bukan tentang keinginan. Kancing-kancing kemejanya terlepas jatuh entah ke mana. Tidak ada kecupan yang menanyakan apakah ini baik-baik saja. Tidak ada jeda yang memberi ruang untuk menjawab.
Hanya napas berat dan tangan yang memastikan Almira tetap di sana, di ranjang ini, di bawah beratnya, di dalam jangkauannya.
Ia tidak disentuh untuk dicintai.
Ia disentuh untuk diingatkan bahwa ia masih bisa disentuh.
Almira mencengkeram seprai di sampingnya. Matanya memejam.
"Lihat aku."
Ia tidak membuka matanya.
Erdoğan menciumnya. Keras, tanpa ruang untuk bernapas di antaranya. Bukan untuk merasakan. Untuk membungkam. Untuk memastikan bahwa mulut ini, tubuh ini, masih ada di sini dan tidak ke mana-mana.
Saat semuanya selesai, Erdoğan menjauh.
Tidak ada sisa hangat. Tidak ada kata.
Erdoğan berdiri di tepi ranjang, menatap ke arah jendela yang menghadap Bosphorus. Punggungnya menegang seperti seseorang yang baru saja merebut kembali kendali, namun tidak menemukan ketenangan yang ia harapkan.
Almira tidak bergerak. Ia menarik lutut ke dadanya, memeluk dirinya sendiri di atas seprai yang tidak lagi terasa seperti miliknya.
Di dadanya ada sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Bukan hanya rasa takut. Bukan hanya sakit.
Sesuatu yang lebih rumit dari keduanya dan lebih melelahkan dari apa yang pernah ia rasakan.
Bahwa ia masih bisa merasakan cinta untuk pria yang baru saja melakukan ini.
Erdoğan mengambil jasnya dari kursi dan melangkah keluar tanpa menoleh.
Di luar, malam Istanbul bergerak seperti biasa.