Sinar matahari pagi jatuh di kulitnya tanpa ia sadari. Dari taman depan, Bosphorus terlihat berkilau. Ia tidak menoleh lama ke arah sana.
Matanya terpaku pada buku di genggamannya. Buku yang tidak berpindah halaman sejak Seda menyajikan teh, sepuluh menit yang lalu.
"Almira Hanımefendi, apa Anda mau saya buatkan teh hangat lagi?"
"Ya."
Jawaban itu keluar sebelum pertanyaannya selesai didengar.
Saat suara langkah Seda menjauh, Almira menurunkan buku itu. Ia tahu dirinya sedang membaca tapi ia tidak tahu apa yang sedang ia baca.
Ia memandang Bosphorus. Satu tangannya meraih cangkir teh, lalu berhenti di udara. Bukan karena panas.
Tangannya hanya berhenti.
Ia meletakkan kembali cangkir itu, persis di tempat semula.
Matahari pagi tidak lagi terasa hangat. Sinarnya menusuk kulitnya tanpa memberi apa pun.
Ia melangkah ke dapur. Membuka kulkas, menatap isinya. Botol-botol minuman dan susu tersusun rapi. Tidak ada yang berubah sejak kemarin.
Ada sesuatu yang seharusnya ia lakukan di sini. Ia tahu itu. Atau mungkin hanya tahu bahwa ia seharusnya tahu.
Namun pengetahuan itu terasa jauh. Seperti milik orang lain.
Ia menutup pintu kulkas.
Kakinya membawanya ke anak tangga.
Tubuhnya terasa berat—bukan lelah seperti setelah bekerja, melainkan seperti seseorang yang sudah menghabiskan terlalu banyak tenaga untuk bertahan. Ia tidak bertanya kenapa. Pertanyaan itu membutuhkan tenaga yang tidak ia punya.
Ia naik.
Malam menjelang.
Makan malam berlangsung seperti biasa. Sunyi.
Almira memakan steak di hadapannya. Pisau dan garpu bergerak dengan ketepatan yang lahir dari kebiasaan. Ia memotong, menyuap, lalu mengulanginya lagi tanpa perlu memikirkannya. Pandangannya tidak pernah terangkat dari piring.
Erdoğan memulai pembicaraan.
"Besok kita ke rumah orang tuaku—"
"Ya."
Jawaban itu keluar sebelum kalimatnya selesai.
Erdoğan menoleh. Tatapannya tertahan di wajah Almira beberapa detik lebih lama dari biasanya. Keningnya berkerut samar.
Almira tetap menyuap makanannya. Tidak mengangkat kepala. Tidak bereaksi terhadap tatapan itu.
"Kita berangkat pagi," kata Erdoğan lagi.
Almira mengangguk.
Satu kali.
Dua kali.