Meja makan keluarga Yaşaran tersusun rapi. Piring porselen putih, peralatan makan perak yang mengilap. Para pelayan bergerak tanpa suara. Dari jendela tinggi di sisi kanan, cahaya siang masuk lembut dan jatuh di atas taplak meja berwarna gading.
Osman Yaşaran duduk di ujung meja. Posturnya tegap. Punggung lurus. Tangannya diletakkan tenang di atas meja.
Ia tidak banyak berbicara. Tidak perlu.
Kehadirannya saja sudah cukup membuat suasana ruangan berubah.
Almira duduk di sisi Erdoğan. Ia makan dengan gerakan yang terjaga. Tidak terburu-buru. Tidak pula lambat. Seperti seseorang yang tahu apa yang diharapkan darinya dan berusaha memenuhinya tanpa cela.
Erdoğan berbicara seperlunya. Menjawab pertanyaan ibunya. Menyela singkat ketika diperlukan. Sesekali ia menoleh ke arah Almira.
Namun tidak menyentuhnya. Tidak menanyakan apa pun.
Ada jarak di antara mereka. Tipis. Namun cukup jelas bagi orang yang terbiasa memperhatikan.
Osman mengenali pola itu bahkan sebelum benar-benar melihat wajah Almira.
Dulu, bertahun-tahun lalu, Ayşe juga pernah duduk seperti itu. Tenang. Patuh. Hadir, tetapi tidak sepenuhnya berada di sana.
Bedanya, Ayşe menjaga jarak dengan kesadaran penuh.
Almira berbeda.
Perempuan ini tidak sedang menjaga jarak. Ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Osman meletakkan sendoknya lebih dulu.
"Almira."
Suaranya tidak keras. Namun percakapan di meja seolah mereda dengan sendirinya.
Almira mengangkat wajah. Sedikit terlambat.
"Kau sudah melihat taman belakang?"
"Belum, Baba," jawab Erdoğan lebih dulu.
Osman tidak menoleh kepadanya.
"Aku bertanya pada istrimu."
Keheningan singkat muncul di meja.
"Belum, Osman Baba," jawab Almira.
Osman mengangguk sekali.
"Udara siang hari bagus. Temani aku berjalan sebentar."
Bukan permintaan. Bukan pula perintah. Namun tak seorang pun menganggapnya sebagai pilihan.