Semburat kemerahan langit senja merayap naik, menjadi batas tipis antara tenang dan muram.
Almira memandang ke depan, ke arah jalan yang menurun. Bosphorus terlihat samar dan berkilau di kejauhan.
Biasanya pemandangan itu mampu menenangkan dirinya.
Hari ini tidak.
Pandangannya beralih sekilas ke samping.
Erdoğan menyetir dengan rahang mengeras, pandangan lurus ke depan sejak mereka meninggalkan rumah keluarga Yaşaran lebih dari tiga puluh menit lalu.
"Jauhi detektif itu."
Suara Erdoğan memecah keheningan. Datar. Tanpa emosi.
Almira tidak segera menjawab. Ia tetap menatap jalan di depan.
"Apa yang kau sembunyikan?" tanyanya akhirnya. Suaranya pelan. Nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil.
Keheningan menyela.
Almira melihat jemari Erdoğan mengencang di kemudi.
"Tidak ada."
Almira menarik napas pendek. "Aku tahu—"
"Tidak."
Potongan itu keluar lebih tajam dari yang biasa ia dengar.
"Kau tidak tahu apa pun."
Hening kembali.
Almira tidak membalas. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Terlalu lelah untuk mengejar jawaban yang terus menjauh setiap kali ia merasa hampir menyentuhnya.
Ia memalingkan wajah, menatap Istanbul yang perlahan diselimuti gelap. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Namun keindahannya terasa jauh.
Seolah kota itu milik orang lain.
Mereka sampai di depan rumah. Almira membuka pintu mobil sesaat setelah mesin mati. Erdoğan mengikuti di belakangnya.
Tak ada pembicaraan lagi hingga mereka tiba di lorong lantai tiga.
"Aku ingin bicara—"
"Tidak. Tolong. Jangan."
Almira berbalik menghadapnya. Suaranya lirih, bergetar.
"Jangan sekarang."
Ia menelan ludah. "Lütfen."