Hujan mulai turun. Gerakan wiper yang konstan menimbulkan gesekan pelan di kaca depan.
Ponselnya berdering beberapa kali. Almira hanya melirik sekilas layar, lalu memalingkan wajah.
Ömer.
Ia sedang tidak ingin bicara. Tidak ingin bertemu siapa pun.
Tangannya bergerak ke dalam tas, menyentuh selembar kertas yang terlipat rapi. Surat keterangan bercap rumah sakit.
Ia sudah tahu sejak pagi.
Tetapi mengetahui dan menerima ternyata dua hal yang berbeda.
Seharusnya ia bahagia.
Sebaliknya, yang ia rasakan hanya kehampaan yang semakin dalam. Dan kesendirian yang kini terasa jauh lebih nyata.
Almira menghela napas panjang. Ia membuka pintu mobil dan menjejakkan kaki di jalan yang basah oleh hujan.
Rumahnya hanya beberapa meter di depan. Namun langkahnya terasa berat.
Sebuah van hitam berhenti tepat di sampingnya.
"Almira Hanım."
Ia menoleh. Hanya sedetik.
Sebuah tangan besar mencengkeram lengannya dan menariknya masuk dengan cepat. Semuanya terjadi begitu senyap hingga Almira bahkan tidak sempat melawan atau berteriak.
Kesadarannya padam sebelum ia sempat memahami apa pun.
Hujan terus turun, semakin deras, membasahi aspal dan sebuah tas tangan hitam yang tertinggal di tepi jalan.
---
Almira terbangun perlahan.
Matanya mencoba menyesuaikan diri dengan ruang sempit di sekelilingnya. Dindingnya lembap, udaranya pengap, dan hanya ada sebuah jendela kecil di sudut atas ruangan yang menjadi penanda bahwa hari mulai gelap.