Erdoğan melangkah cepat menuju ruang tengah rumah orang tuanya.
"Erdoğan?" Ibunya menatap heran. "Kau tidak memberi kabar akan datang. Kau sendirian?"
"Ya, Anne. Baba belum kembali?"
"Masih di Ankara. Pertemuan dengan presiden lebih lama dari perkiraan."
Rahang Erdoğan mengeras.
Sudah dua hari sejak Almira menghilang.
Dua hari tanpa kabar.
Dua hari tanpa satu petunjuk pun yang benar-benar mengarah ke mana pun.
"Ada apa?" tanya Hilmiye.
Erdoğan menatap ibunya sesaat.
Kalimat itu hampir keluar begitu saja. Namun seperti biasa, ia menahannya.
Seumur hidupnya, Erdoğan belajar bahwa tidak semua pertanyaan aman untuk diucapkan keras-keras.
"Tidak apa-apa," jawabnya akhirnya. "Aku akan kembali nanti."
Ia mengecup pipi ibunya dan pergi sebelum pertanyaan lain muncul.
Baru saja ia mencapai pintu rumahnya, sebuah suara memanggil dari belakang.
"Yaşaran!"
Erdoğan berbalik.
Ömer berjalan cepat ke arahnya. Dan sebelum Erdoğan sempat bereaksi, kerah bajunya sudah dicengkeram.
"Di mana Almira?"
Erdoğan menepis tangan itu kasar. "Aku sudah memperingatkanmu. Menjauh."
Ia berbalik hendak masuk.
"Istrimu menghilang dan kau bahkan tidak melapor," suara Ömer rendah, berbahaya.
Langkah Erdoğan terhenti di ambang pintu.
"Kalau terjadi sesuatu padanya, kau tersangka utama."
Hening sesaat.
Lalu Ömer menambahkan, "Seperti dulu."
Urat di rahang Erdoğan menegang. Tangannya mengepal tanpa sadar.
"Dan kali ini," lanjut Ömer pelan, "kupastikan kau tidak akan lolos."
Erdoğan tidak menoleh. Tidak ada gunanya.
Erdoğan masuk ke rumah dan menutup pintu, lebih keras dari yang ia maksudkan.
***
Sore menjelang. Erdoğan mondar-mandir di ruang kerjanya. Laporan demi laporan berdatangan. Rekaman CCTV, laporan polisi, pemeriksaan jalan tol, bandara, pelabuhan.
Tidak ada. Tidak satupun memberinya jawaban.
Saat ia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri, ponselnya berbunyi.