Enam tahun lalu
Istanbul, Musim Panas
Erdoğan duduk di salah satu sofa ruang kerja ayahnya. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya mengepal di atas paha. Udara terasa berat, meski jendela terbuka lebar.
Di balik meja kayu berpelitur gelap, Osman Yaşaran duduk dengan punggung tegak di kursi kulitnya. Kedua tangannya terjalin rapi di atas meja. Wajahnya datar seperti biasa—terlalu tenang untuk ditebak.
Keheningan membentang cukup lama hingga suara jam dinding terdengar lebih keras dari seharusnya.
"Bagaimana dengan pemuda itu?" Erdoğan akhirnya membuka suara.
"Dia tidak akan mengganggu," jawab ayahnya tenang. "Hacıoğlu akan jadi milikmu."
"Aku tidak menginginkan —"
"Itu bukan hadiah," potong ayahnya. Suaranya tetap rendah, tapi cukup untuk menghentikan kalimat Erdoğan.
"Itu harga yang harus mereka bayar."
Rahang Erdoğan mengeras. Ia menahan napas beberapa detik sebelum mengembuskannya perlahan.
Osman memandang putranya tanpa perubahan ekspresi sedikit pun.
"Pergilah ke New York."
Erdoğan mendongak.
"Aku tidak bisa. Namaku akan ada di mana-mana. Aku harus menghadapi itu."
"Ini perintah!" nada ayahnya kini tajam, tak memberi ruang untuk bantahan.
"Namamu tidak akan pernah disebut di mana pun."
Dan seperti banyak keputusan lain dalam hidupnya, Erdoğan menyadari bahwa keputusan itu sebenarnya telah dibuat jauh sebelum ia memasuki ruangan ini.
***
Enam tahun kemudian
New York, Musim Dingin
Kota tempat ia belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan di Çamlıca.
Bahwa kekuasaan tidak selalu diwariskan. Kadang seseorang harus dipisahkan darinya terlebih dahulu untuk memahami bagaimana cara membangunnya sendiri.
Salju turun perlahan di balik jendela apartemen Midtown Manhattan. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti bayangan kelabu di balik lapisan putih yang terus bertambah tebal.
"Keputusan ada di tanganmu."
Osman Yaşaran duduk di sofa ruang kerja apartemen Erdoğan di Manhattan. Beberapa lembar foto seorang wanita terhampar di atas meja rendah di antara mereka.
Erdoğan menunduk.
Mata cokelat. Rambut panjang berwarna senada yang diikat sederhana. Kemeja putih. Celana bahan.
Tak ada sesuatu yang mencolok. Ia tampak seperti seseorang yang bisa berjalan melewati keramaian tanpa menarik perhatian siapa pun.
Namun Erdoğan berhenti lebih lama dari yang ia sadari.
Senyum itu. Lesung pipit kecil di pipi kirinya. Ada sesuatu di sana.
Bukan kecantikan yang memaksa orang menoleh. Lebih seperti ketenangan yang membuat seseorang ingin terus memandang.
"Aku dan Annen tidak akan memaksamu," kata ayahnya. "Jika kau tak ingin berhubungan lagi dengan mereka."
Pandangan Erdoğan tidak beralih dari foto itu.
"Apa perjanjiannya?"
"Akuisisi saham empat puluh persen."
Kini ia mengangkat kepalanya "Bukan mayoritas?" .
Senyum tipis muncul di sudut bibir Osman. "Kita tidak perlu mayoritas."
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Empat puluh persen cukup untuk memastikan kapal itu tidak berbelok tanpa persetujuan kita."
Hening sesaat
"Itu bukan kepemilikan," lanjutnya pelan. "Itu kendali."
Salju terus turun di luar. New York tenggelam dalam warna putih dan abu-abu.
Sementara Erdoğan tetap menatap foto yang berada paling atas.
Entah karena perjanjian bisnis itu.