Enam tahun lalu
Musim Panas, ruang kerja Cevdet Paşa
Erdoğan membuka map cokelat yang baru saja ia terima. Dokumen itu berasal dari seseorang yang pernah ia selamatkan bertahun-tahun lalu—salah satu dari sedikit orang yang masih berani membalas budi dengan mempertaruhkan posisinya sendiri.
Dokumen paling awal. Versi yang dibuat sebelum terlalu banyak tangan ikut campur.
Ia menarik napas pelan lalu mulai membaca lembar demi lembar dengan saksama.
Di bagian atas halaman pertama tercetak judul yang langsung membuat rahangnya menegang.
Berita Acara Pemeriksaan – Kecelakaan Lalu Lintas.
Pandangannya turun ke rincian kejadian.
Lokasi kejadian: D020 Karayolu, kilometer 37, akses penghubung Ormanlı Yolu.
Wilayah administrasi: Distrik Çatalca, Istanbul.
Erdoğan berhenti sejenak. Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa janggal. Sesuatu yang belum bisa ia namai.
Ia melanjutkan membaca.
Kendaraan I mengalami kegagalan fungsi sistem pengereman...
Baris demi baris berlalu di depan matanya.
Pengemudi truk: Süleyman Doğulu.
Status pekerjaan: pengganti. Bukan pegawai tetap.
Keningnya berkerut.
Ia kembali ke bagian identitas kendaraan. Lalu menemukannya.
Satu kolom kosong.
Nomor polisi truk tidak tercantum.
Tangannya diam beberapa detik di atas kertas sebelum ia membalik halaman berikutnya. Nama Ayşe muncul lebih dahulu.
Ayşe ——, penumpang. Meninggal dunia di tempat kejadian.
Di bawahnya tercantum nama Mert.
Mert ——, pengemudi. Luka berat.
Hanya itu.
Tidak ada nama lengkap.
Tidak ada keterangan saksi.
Tidak ada hasil pemeriksaan lanjutan.
Tidak ada apa pun yang seharusnya ada dalam sebuah laporan kecelakaan yang menewaskan seseorang.Perasaan tidak nyaman mulai merayap pelan di dalam dadanya.
Ia membuka halaman terakhir.
Kalimat-kalimat di sana terasa seperti potongan yang belum selesai. Beberapa bagian berhenti di tengah penjelasan. Tanda tangan petugas nyaris tidak terbaca. Seolah seseorang terburu-buru menutup berkas itu sebelum pekerjaan mereka benar-benar selesai.
Atau sebelum seseorang sempat mengajukan terlalu banyak pertanyaan.
Ruangan menjadi sunyi.
Erdoğan menutup map itu perlahan lalu meletakkannya di atas meja.
Saat itu ia menerima dokumen tersebut sebagai kebenaran. Sebagai jawaban yang selama ini ia cari.
Baru bertahun-tahun kemudian ia menyadari sesuatu.
Sebuah laporan yang belum lengkap tidak pernah seharusnya menjadi akhir dari sebuah penyelidikan.
========
Erdoğan menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Pandangannya tak pernah lepas dari Almira yang tertidur di sisinya. Napas perempuan itu akhirnya kembali teratur setelah berjam-jam diliputi kecemasan.
Dokter Çağıran telah memastikan kondisi Almira dan bayi mereka baik-baik saja. Tubuhnya hanya mengalami syok, kelelahan, serta kekurangan cairan dan nutrisi.
Tapi Erdoğan belum bisa bernapas lega.
Ia menurunkan kedua kakinya ke lantai, lalu berdiri. Sebelum melangkah keluar kamar, ia menoleh sekali lagi ke arah Almira.
Bagaimana Almira bisa berada di tempat sejauh itu?
Siapa yang berani menyentuhnya?
Kenapa?