Almira membuka matanya perlahan. Sinar matahari menyelinap masuk melalui tirai yang tertutup. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Dinding berwarna gelap, sofa putih, karpet abu-abu tebal di bawah ranjang.
Maskulin dan tegas.
Kamar Erdoğan.
Ruangan itu terlalu sunyi.
Almira tidak ingat bagaimana ia sampai ke sana.
Ingatan terakhirnya adalah cahaya putih ruang perawatan, rasa lelah yang menekan seluruh tubuh, lalu kegelapan yang datang perlahan.
Ketidaktahuan itu membuat dadanya menegang.
Ia tidak suka kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Terlebih setelah apa yang baru saja ia alami.
Ia bangun, menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Ingatan itu kembali masuk ke pikirannya.
Tubuhnya menggigil, ketakutan merayap di tengkuknya. Lalu dekapan hangat itu...
Tanpa sadar ia memeluk tubuhnya.
Ia memang sudah melangkah terlalu jauh.
Terlalu lama membiarkan amarah dan luka hatinya menentukan arah.
Jika beberapa hari lalu berakhir sedikit berbeda, mungkin ia tidak akan berdiri di sini sekarang.
Mungkin satu-satunya alasan ia masih diberi kesempatan adalah kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
Almira Hanım
Ia masih ingat kata pertama dan terakhir mereka.
Panggilan itu bukan panggilan orang asing. Itu panggilan dari lingkaran yang mengenalnya.
Pintu kamar berderit perlahan.
Almira terkejut dan menoleh cepat, lalu menarik napas lega saat dilihatnya Seda yang masuk.
"Almira Hanımefendi, Anda sudah bangun?" tanya Seda hati-hati.
"Ya, Seda," Almira membalas singkat. Ia bangkit berdiri dan sedikit terhuyung saat hendak melangkah keluar.
"Anda mau kemana?"
Almira mengernyit. "Kamarku. Sudah beberapa hari aku tidak mandi."
Seda tampak ragu. Ia kemudian berkata, "Barang pribadi Anda sudah dipindahkan kemari."
"Apa maksudmu?" nadanya sedikit tinggi.
"Erdoğan Beyefendi memerintahkannya."
"Allah!" Almira berseru kecil. Ia kembali terduduk di ranjang, memijat pelipisnya yang kembali berdenyut.
"Erdoğan di kantor?" tanya Almira lagi. Dilihatnya jam digital di nakas memperlihatkan angka sepuluh pagi.
"Ya, Hanımefendi."
Baiklah, untuk saat ini ia hanya akan menunggu.