Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #36

Di Kamar Yang Sama

Matanya tak bisa terpejam, meski rasa kantuk sudah lama menggerogoti tubuhnya.

Jarum jam di nakas menunjukkan pukul satu dini hari ketika Almira kembali membalikkan badan, entah untuk ke berapa kalinya malam itu. Selimut yang menutupi tubuhnya terasa terlalu hangat. Udara kamar terlalu dingin.

Pada akhirnya ia menyerah.

Pandangannya jatuh pada sosok yang berbaring membelakanginya.

Erdoğan.

Punggung pria itu tampak tenang di balik piyama sutra hitam. Napasnya teratur, panjang dan stabil, seolah tidak ada satu pun hal di dunia yang mengganggu tidurnya.

Almira memejamkan mata sesaat.

Ia masih marah. Marah karena kamarnya dikunci. Marah karena barang-barangnya dipindahkan tanpa izin. Marah karena Erdoğan terus membuat keputusan atas hidupnya tanpa pernah bertanya apa yang ia inginkan.

Namun berada di ranjang yang sama ternyata menghadirkan ketidaknyamanan yang berbeda.

Dengan hati-hati ia menyingkirkan selimut lalu duduk di tepi ranjang. Kepalanya kembali berdenyut. Ia mengangkat tangan dan memijat pelipisnya pelan.

"Kuambilkan minum."

Suara rendah itu membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat.

Erdoğan sudah duduk di atas ranjang. Ia lalu berdiri, mengambil gelas di meja dan mengulurkannya pada Almira.

Almira menerima gelas itu dan meminum isinya tanpa mengucapkan terima kasih.

"Berbaringlah."

"Tidak," jawab Almira tajam. "Aku ingin tidur di kamarku."

"Berbaring." 

Nada itu tidak terdengar keras. Justru itulah yang membuatnya sulit diabaikan.

Dan seperti yang selalu terjadi sejak dulu, tubuh Almira bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat menyusun bantahan lain.

Erdoğan lalu memijat lembut kakinya. Almira segera menarik kakinya dari tangan itu.

"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."

"Ini akan membantumu tidur."

"Kubilang tidak."

Tapi pria itu tidak mendengarkannya. Ia kembali menarik kaki Almira.

"Besok pagi kita ke rumah orang tuamu. Malam ini tidurlah. Jangan terlambat bangun."

Almira mendengarkan. Matanya memperhatikan gerakan tangan Erdoğan di kakinya. 

Perlahan rasa nyaman merasuk diikuti rasa lelah dan kantuk yang sejak tadi tak kunjung bisa membuat matanya terpejam. Dan dalam sekejap, dirinya dibuai ke dalam tidur yang nyenyak.

***

Almira bangun, tanpa mimpi. Ia segera melihat jam di nakas. Pukul delapan pagi.

Oh, tidak. Ia terlambat bangun.

Ia segera masuk ke kamar mandi, mandi cepat dan merapikan dirinya.

Lihat selengkapnya