Lima tahun lalu
Padalarang, Indonesia
Almira menaiki undakan kecil rumahnya.
Rumah tempat ia dibesarkan itu berada di atas bukit. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat hamparan kebun teh milik kakeknya. Beberapa pekerja kebun yang lewat di depannya memberi sapaan sopan.
"Assalamualaikum," salamnya. Langkahnya terhenti di ambang pintu depan saat ia melihat kakeknya duduk bersama dua orang asing laki-laki dan perempuan.
Apakah mereka saudara jauh yang diceritakan abah waktu itu?", batinnya
"Wa'alaikumsalam. Mira, salam heula ka maranehna, nya." (Mira, beri salam sama mereka.)
Almira mengangguk sopan. Dan seperti kebiasaan, ia mencium tangan kedua tamu yang, tampak terkejut, namun segera menerima kesopanan Almira dengan senyum senang.
"Diuk heula, Mira."
Almira lalu duduk di samping kakeknya.
"This is my granddaughter. Almira," kata kakeknya.
"So... she belongs to the Hassan lineage as well?" (Jadi, dia juga Hassan?) Tamu pria itu bertanya, meneliti wajah Almira.
"Yes. Her father, my son, is fourth generation of Sheikh Abdurrahman Hassan from Yemen. Her mother is third generation of Ameer Assegaf, from Pakistan." (Ya, ayahnya keturunan keempat dari Syekh Abdurrahman Hassan. Ibunya keturunan ketiga Ameer Assegaf dari Pakistan).
Kakeknya menjelaskan asal-usul orang tuanya dengan nada bangga yang terdengar jelas.
Almira salah tingkah dan tidak nyaman dengan pernyataan sedetail itu.
"Bah, kunaon nyarios kitu?" (Abah, kenapa ngomong begitu?)
Kakeknya hanya menepuk tangannya pelan.
"I'm the fourth generation from Sheikh Hussein Hassan, Abdurrahman's older brother." (Aku keturunan keempat Syekh Hussein Hassan, kakak kandung Shaikh Abdurrahman.), jelas tamu pria itu lagi.
"Hm... Nasabuhu wadihun jiddan." (Nasabnya sangat jelas) Kakeknya mengangguk-anggukan kepala, entah apa maksudnya.
"So, I guess it's fine. She's still from the same family line as you." (Jadi, kurasa tidak ada masalah. Dia masih satu keturunan denganmu.)
Kali ini, tamu wanita yang berbicara. Suaranya tenang dan lembut. Ia lalu memandangi wajah Almira lekat-lekat.
"Almira, right?" wanita itu bertanya.
Almira menganggukkan kepalanya.
"How old are you?" tanya wanita tamu itu lagi.
"Twenty-three."
"One year apart," (Beda setahun), gumam wanita itu sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh siapapun, kecuali Almira.
"For the next week, would you be our guide?" (Selama seminggu ke depan, maukah kau menjadi pemandu kami?)
"Of course. I'd be happy to," jawab Almira.
Dan selama seminggu ia menjadi pemandu mereka. Menemani berjalan-jalan di kota, menikmati udara pegunungan yang sejuk, dan berkunjung ke tempat wisata terkenal. Pasangan suami istri itu sangat baik, terutama sang istri. Ia memperlakukan Almira seperti putri kandungnya.
Hingga seminggu kemudian mereka akan berpamitan. Mereka berempat berbincang akrab dan santai di taman depan rumah.
"Almira, we want to talk with you." (Almira, kami ingin berdiskusi denganmu)
Kakeknya tiba-tiba berkata serius. Suami istri Hassan juga mendengarkan sembari menyesap teh sore hari.
"Mr. and Mrs. Hassan would like to take you to their home, as their daughter." (Tuan dan Nyonya Hassan ingin membawamu ke rumah mereka, sebagai putri mereka)
"Apa?" Almira terkejut. Ia bergantian menatap kakeknya dan suami istri Hassan.
"Kunaon, abah?"(Kenapa?), tanyanya lagi lirih, dalam bahasa daerah, agar kedua tamu itu tidak memahami ucapannya.
"Almira teu daék, Bah." (Almira nggak mau.)
"Mira, ieu pikeun mangsa hareup. Ulah kakurung di dieu wae. Coba léngkah jauh, sing wani." (Mira, ini demi masa depanmu. Jangan terkurung di tempat ini. Bawa langkahmu jauh.)
"Abah..."
"We'd like you to become part of our family." (Kami ingin menyambutmu sebagai bagian dari keluarga kami)
Wanita itu memegang tangan Almira lembut, tampaknya memahami penolakan Almira dari gerak tubuh dan suaranya. "Please, allow us."
"I'm sorry, Mrs. Hassan. I just don't know how to respond." (Maaf, Nyonya Hassan. Saya hanya tidak tahu bagaimana menjawabnya.)
"Take your time with the decision, there's no rush. You'll have a month to think it over while we handle all the legal details here and back home. If you feel ready, we'll be waiting to welcome you at the airport two months from now." (Tidak perlu terburu-buru menjawab. Aku akan memberimu waktu sebulan, sementara kami mengurus surat-surat legalnya, disini dan di negara kami. Jika kamu setuju, kami akan menunggumu di bandara dua bulan dari sekarang)
Almira hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Hidupnya yang biasa-biasa saja tampaknya akan mengalami perubahan yang tidak ia sangka.