Suara gagang pintu yang ditekan menjadi akhir dari keputusan yang ia ambil.
Almira melangkah masuk ke kamarnya, menutup pintu, lalu duduk di kursi meja kerja. Ia membuka laptop. Dari saku celananya, ia mengeluarkan benda kecil seukuran kuku jarinya.
Kecil, nyaris tak berarti.
Namun dibutuhkan lebih dari sekadar satu tarikan napas untuk berani melihat apa yang disimpannya.
Tangannya gemetar saat memasukkan Micro SD itu ke port laptop, lalu memasang earphone di telinganya. Ia berdoa, semoga apa pun isinya, bukan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Layar menyala.
File di dalamnya terbaca. Puluhan—tidak—ratusan video, tanpa nama jelas. Hanya deretan angka yang Almira asumsikan sebagai tanggal, bulan, dan tahun.
Ia mengklik salah satu file paling atas.
Sebuah wajah melintas di depan kamera, tampaknya sedang memperbaiki sudut rekaman. Wajah yang ia kenal, meski hanya sekali ia temui.
Mert.
Napas Almira tertahan. Telapak tangannya mendadak dingin.
Ia memang sudah menduga micro SD dan buku itu milik Mert. Tapi melihat wajah pria itu kembali—dalam rekaman yang seharusnya tak pernah ia lihat—terasa seperti mengulang mimpi buruk.
Wajah Mert menghilang. Yang tersisa hanya ruang tamu bernuansa putih.
Beberapa detik berlalu. Lalu suara terdengar. Suara seorang perempuan, diikuti sosoknya yang duduk anggun di sofa. Kamera hanya menangkap sisi wajahnya.
Rambut hitam panjang. Fitur wajah cantik dan tegas. Kulit seputih porselen mahal.
Ayşe
Jantung Almira berdegup lebih cepat. Melihat wajah perempuan yang posisinya ia gantikan dalam hidup—meski hanya lewat layar—membuat dadanya terasa sempit. Namun jarinya tetap menahan diri untuk tidak menekan tanda X.
Di video itu, Ayşe berbincang dengan Mert. Bukan percakapan penting. Tentang kuliah, tentang sesuatu yang ia sebut membosankan. Video berakhir.
Almira mengembuskan napas pelan.
Ia membuka video lain. Isinya hampir sama. Potongan wajah Ayşe. Percakapan yang tak bermakna.
Mungkin Mert menyimpan ini sebagai kenang-kenangan, pikirnya.
Satu lagi saja.
Almira membuka file berikutnya.
Sesaat kemudian tubuhnya membeku. Refleks ia memalingkan wajah dari layar. Namun suara di earphone masih terdengar.
Napas yang bertaut. Bisikan yang saling menyahut.
Lalu suara Ayşe.
"Mert..."
Disusul suara Mert yang menyebut nama yang sama.
"Ayşe..."