Sambungan telepon itu terus berdering tanpa jawaban.
Almira menunggu beberapa saat sebelum mencoba lagi. Kali ini panggilannya bahkan tidak tersambung.
Ia menurunkan ponselnya perlahan dan menatap layar beberapa detik. Perasaan tidak nyaman yang sejak siang mengganggunya kembali muncul.
Dengan cepat ia mengetik beberapa pesan. Ia tidak terlalu memikirkan susunan kalimatnya. Yang penting pesan itu terkirim.
Hari masih sore. Masih ada waktu sebelum Erdoğan pulang.
Almira bangkit dan berjalan menuju kamar Erdoğan. Ia membuka laci nakas, memeriksa lemari pakaian, lalu rak sepatu di sudut ruangan.
Tidak ada.
Ia berpindah ke laci berikutnya.
Tetap tidak ada.
Di mana Erdoğan menyimpan kunci mobilnya?
Saat tangannya baru menyentuh gagang pintu, pintu itu terbuka dari arah luar.
Almira tersentak dan mundur selangkah.
Erdoğan berdiri di ambang pintu.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
"Kau sudah pulang?" tanyanya. Suaranya terdengar sedikit lebih tinggi daripada yang ia inginkan.
Erdoğan memandangnya beberapa saat. Tatapannya singkat namun tajam, seolah sedang menilai sesuatu, sebelum akhirnya mengendur.
"Ya." Ia melepaskan jam tangannya. "Aku mandi dulu."
Almira mengangguk dan memaksakan senyum kecil.
Saat Erdoğan berlalu di sampingnya, ia baru menyadari bahwa kedua tangannya gemetar.
Ia segera mengepalkan jemarinya dan menarik napas panjang sampai detak jantungnya kembali teratur.
Makan malam berlangsung seperti malam-malam biasa.
Mereka berbicara seperlunya. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pertanyaan yang membuatnya harus berbohong. Namun justru ketenangan itu membuat Almira semakin gelisah.
Ia tahu Erdoğan terlalu cerdas untuk menunjukkan kecurigaan secara terang-terangan.
Jika pria itu memang mencurigai sesuatu, Almira mungkin akan menjadi orang terakhir yang mengetahuinya.
"Aku ke ruang kerja dulu." Erdoğan berdiri dari kursinya.
Sebelum pergi, ia membungkuk dan mengecup pelan puncak kepala Almira.
"Aku di kamar," kata Almira. "Beritahu aku kalau kau sudah selesai."
"Hm."
Erdoğan mengangguk lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
Almira kembali ke kamar pribadinya.
Ia berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah Bosphorus. Lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan, memantul di permukaan air yang gelap.
Ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Semakin banyak yang ia temukan, semakin jelas bahwa semua ini jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
Kematian Ayşe.
Kematian Mert.
Lalu pengakuan pria di apartemen beton Çorlu.
Semuanya mengarah pada sesuatu yang sama.
Sesuatu yang cukup besar untuk membuat orang-orang memilih diam.