Erdoğan memarkirkan mobilnya di pelataran parkir Liv Hospital. Ia turun lebih dulu, mengitari mobil, lalu membuka pintu penumpang.
Sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.
Almira turun dan tersenyum kecil. "Terima kasih."
Namun sedetik kemudian, senyum itu membeku di bibirnya.
Dari balik bahu Erdoğan, Almira melihat sosok yang ia kenal melangkah masuk ke rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Napasnya tertahan sesaat.
"Ada apa?" tanya Erdoğan pelan. Tetapi matanya meneliti wajah Almira.
"Tidak..." Almira cepat menggeleng. Jemarinya membetulkan coat-nya "Aku hanya gugup. Ini pertama kalinya aku periksa USG."
Erdoğan menggenggam tangannya. Genggaman yang hangat dan erat.
"Aku di sini," katanya singkat. "Ayo."
Ruang tunggu Liv Hospital terasa terlalu bersih. Terlalu terang. Bau antiseptik tipis bercampur dengan suara langkah kaki yang teratur. Gumaman pelan pasien terdengar di kanan kirinya.
Almira duduk dengan kedua tangan saling bertaut di pangkuannya, menyembunyikan rasa dingin yang tak kunjung pergi. Erdoğan duduk di sampingnya. Punggungnya tegak, kaki bersilang, wajah tenang.
Ia berbicara dengan dokter sebelumnya tanpa nada khawatir. Seperti seseorang yang terbiasa menerima kabar baik. Atau terbiasa mengendalikan hasil.
"Kita tunggu sebentar," kata Erdoğan setelah menutup telepon. "Aku ada panggilan penting setelah ini."
Almira mengangguk. Perutnya mendadak mual. Entah karena kehamilan, atau karena sosok yang ia lihat tadi.
"Aku ke toilet sebentar," katanya, berpura-pura terdengar santai.
Erdoğan menoleh. Tatapannya tajam sedetik, lalu mengendur.
"Aku di sini."
Lorong menuju toilet lebih sepi. Langkah Almira pelan di atas lantai mengilap. Jantungnya berdetak terlalu keras di telinga sendiri.
Dan di sanalah ia melihatnya. Tidak terlihat mencolok, tidak pula tampak ingin mendekat. Hanya seorang pria yang bersandar di dekat mesin minuman. Jaket gelap, ponsel di tangan, kepala sedikit tertunduk.
Namun Almira tahu. Dari caranya berdiri, dari kesiapan tubuhnya, dan dari tatapan singkat yang terangkat sepersekian detik lalu turun kembali.
Ömer.
Langkah Almira melambat tanpa ia sadari. Dadanya mengencang. Ia berjalan melewatinya, berhenti di ujung lorong, berpura-pura merapikan tas.
"Jangan di sini," suara Ömer nyaris tak terdengar. Bibirnya hampir tak bergerak.
"Kau menghilang," bisik Almira.
"Aku tidak seharusnya terlihat," jawab Ömer singkat. Tatapannya meluncur ke arah tikungan lorong, ke tempat Erdoğan menunggu, meski tak terlihat.
"Ini penting," suara Almira bergetar. "Aku menemukan sesuatu."
Bahu Ömer menegang.
"Bukan sekarang," katanya cepat. "Kau tidak sendirian."
"Dan kau tidak membalas pesanku," balas Almira pahit.
Hening satu detik.
Langkah kaki terdengar dari kejauhan.