Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #43

Retakan Yang Nyata

Almira tahu Erdoğan sudah kembali. Ia mengenali suara langkah itu. Mantap, terukur, tanpa ragu.

Namun ia tetap duduk di sofa. Novel yang sama masih terbuka di tangannya. Sudah hampir sepuluh menit ia berada di halaman yang sama tanpa benar-benar membaca satu kalimat pun.

Pintu terbuka

Erdoğan masuk. Langkahnya tenang saat mendekat. Tidak ada sapaan, tidak ada pertanyaan. Ia hanya duduk di samping Almira. Sangat dekat.

"Kau pulang terlambat," kata Almira.

"Maaf," jawab Erdoğan singkat.

Tangan Erdoğan terangkat dan menyentuh pipinya lembut. Hampir membuat Almira lupa pada segala hal yang terjadi hari itu.

"Hari ini melelahkan?" tanyanya.

"Tidak terlalu."

"Hm."

Erdoğan memperhatikannya beberapa saat. Tatapan itu membuat Almira sulit bernapas. Seolah pria itu sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di balik wajahnya.

"Ada apa?" tanya Almira.

"Tidak ada."

Erdoğan tersenyum tipis. Lalu mencondongkan tubuhnya. Bibirnya menyentuh bibir Almira perlahan. Lembut dan hangat.

Almira memejamkan mata. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya.

Jari-jari Erdoğan menyusuri rahangnya. Turun ke lehernya.

Almira membiarkan dirinya tenggelam beberapa detik dalam perasaan itu. Sampai bibir Erdoğan mendekat ke telinganya.

"Cafer Erol menyenangkan?"

Tubuh Almira langsung menegang. Seolah seseorang baru saja menyiramkan air dingin ke punggungnya. Napasnya tertahan.

Ia membuka mata. Wajah Erdoğan di depannya, sangat dekat, hingga ia bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat.

"Apa?"

"Kau menemukan yang kau cari?" suara Erdoğan tenang. Tenang sekali.

Namun justru ketenangan itulah yang membuat dadanya mengencang.

Ia menjauh perlahan. "Kau mengikutiku."

"Kau mencari di tempat yang salah," balas Erdoğan. Tatapannya tidak berubah. Tetap tenang dan datar.

"Jadi kau memang mengawasiku," jawab Almira.

"Kau istriku."

"Itu alasanmu?"

"Aku tidak perlu menjelaskannya."

Kemarahan yang sejak beberapa hari lalu ia tahan, akhirnya muncul.

"Kau mengurungku." Ia menarik napas cepat. "Kau mengatur ke mana aku pergi. Dengan siapa aku bicara. Sekarang kau bahkan mengawasiku."

Erdoğan berdiri. Ia tidak membela diri. Tidak menyangkal. Dan itu semakin membuat Almira marah.

"Apa yang kau sembunyikan?" tanya Almira.

Tak ada jawaban.

"Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?" ulangnya lebih keras.

Tatapan Erdoğan berubah. Kali ini lebih tajam, lebih dingin.

"Apa yang ingin kau ketahui?"

Pertanyaan itu membuat Almira terdiam. Karena tiba-tiba semua pertanyaan yang selama ini memenuhi kepalanya terasa terlalu nyata.

Tentang Ayşe.

Tentang kecelakaan itu.

Tentang Mert.

Tentang semua hal yang selama ini Erdoğan tolak jelaskan.

Ia hanya perlu bertanya. Satu pertanyaan saja. Dan mungkin hidupnya akan berubah selamanya.

Namun keberanian itu goyah saat ia menatap wajah Erdoğan.

Bagaimana jika jawabannya benar-benar tidak ingin ia dengar?

Bagaimana jika setelah malam ini tak ada jalan untuk kembali?

Lihat selengkapnya