Pintu ruang kerja tertutup di belakang Ömer. Suaranya tidak keras, tapi setelahnya ruangan menjadi jauh lebih sunyi.
Erdoğan tetap berdiri di tempatnya. Pandangannya masih tertuju pada pintu yang baru dilewati pria itu.
Almira tidak bergerak. Ia berdiri beberapa langkah dari sofa, sementara napasnya tidak teratur. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat.
Beberapa saat berlalu tanpa satu pun dari mereka berbicara.
Erdoğan berjalan ke arah meja kerjanya. Ia meletakkan kedua telapak tangan di atas permukaan kayu gelap itu dan menundukkan kepala sejenak.
Almira belum pernah melihatnya seperti itu.
Pria itu tidak marah, tapi ia juga tidak terlihat tenang. Seperti ada sesuatu yang ia tahan agar tidak keluar.
Akhirnya Erdoğan mengangkat kepalanya.
"Kau tidak seharusnya menemuinya," ucapnya rendah.
Bahu Almira menegang. Ia tertawa pelan, hambar. Tawa yang tidak terdengar seperti miliknya.
"Dan kau tidak seharusnya mengurungku."
Erdoğan memejamkan matanya sesaat. "Aku tidak pernah mengurungmu."
"Benarkah?"
Almira menatapnya lurus. "Kau mengambil ponselku."
Erdoğan tidak membalas.
"Kau mengunci kamarku."
Erdoğan tetap diam.
"Kau mengawasi ke mana aku pergi."
Rahang Erdoğan mengeras. "Aku melindungimu."
Almira menggeleng. Ia merasa lelah. Lelah dengan kalimat itu. Lelah mencoba mempercayainya.
"Tidak," suaranya lirih, nyaris seperti bisikan. "Kau melindungi sesuatu."
Tatapan Erdoğan berubah. Almira tidak tahu apakah itu kemarahan atau kekecewaan.
Mungkin keduanya.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kau hadapi."
"Aku tahu cukup banyak untuk merasa takut."
Hening kembali di antara mereka.
Erdoğan berjalan menuju jendela. Dari lantai atas rumah itu, Bosphorus terlihat tenang di kejauhan. Kapal-kapal kecil bergerak lambat di atas permukaan air yang berkilau.
Pemandangan yang selalu memberi ketenangan.
Tapi tidak dengan hari ini.
"Apa yang dia katakan padamu?" tanya Erdoğan tanpa berbalik.
Almira menatap punggungnya. Tegak dan lebar. Tapi terasa sangat jauh untuk ia sentuh.
"Cukup untuk membuatku bertanya-tanya."
"Tentang apa?"
"Tentang siapa yang sebenarnya harus kutakuti."
Erdoğan kembali terdiam. Ia hanya berdiri diam di depan jendela kaca.
Lalu perlahan ia berbalik. Tatapannya jatuh pada wajah Almira.
"Apa pun yang terjadi," kata Erdoğan pelan, "tidak ada yang akan menyentuhmu."
Almira ingin mempercayainya. Tuhan tahu ia ingin.
Namun bayangan dua pria yang menyeretnya ke dalam mobil saat hujan masih terlalu jelas di kepalanya.
Begitu juga dengan nama yang terus muncul berulang kali.
Yaşaran.
Maka pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia tahan.
"Bahkan ayahmu?"
Wajah Erdoğan tetap datar. Tetapi nama itu membuatnya terdiam lama.
Dan bagi Almira, diam itu sudah cukup menjadi jawaban.
***
Almira kembali ke kamar pribadinya dan duduk di tepi ranjang.
Untuk waktu yang lama ia hanya memandangi Bosphorus yang berkilau di bawah cahaya matahari siang.
Anehnya, setelah semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, pikirannya justru terasa kosong.