Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #45

Garis Darah

Mobil Erdoğan melaju meninggalkan area bandara dalam diam. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Pantulannya bergeser di kaca depan setiap kali mobil melewati persimpangan. Di dalam kabin, tidak ada suara selain dengung mesin dan napas mereka yang sama-sama tertahan.

Almira duduk mematung di kursi penumpang. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Pandangannya lurus ke depan, seolah jalan raya di hadapannya jauh lebih mudah dihadapi daripada pria yang duduk di sampingnya.

"Kau mengawasiku lagi." Suara Almira yang pelan namun tajam memecah kesunyian.

Erdoğan tidak langsung menjawab. Kedua tangannya tetap mantap di kemudi.

"Tidak," katanya setelah beberapa saat. "Aku menerima telepon dari rumah."

Almira tidak menoleh. Jawaban itu tidak membuatnya lebih tenang. Ia memilih memalingkan wajahnya, melihat kota dari kaca samping kursi penumpang.

Mobil terus melaju melewati Beşiktaş. Gedung-gedung mulai berganti dengan jalan yang mengarah ke Jembatan Bosphorus.

Almira pikir mereka akan keluar jalan tol dan berbelok ke arah Bebek, kawasan rumah mereka. Tapi mobil tetap melaju lurus, melewati Jembatan Bosphorus, menuju Istanbul bagian Asia.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Ke mana kita?" tanyanya panik.

Saat Erdoğan tidak segera menjawab, Almira menoleh ke arahnya.

"Çamlıca," jawab Erdoğan singkat.

Satu kata itu membuat tengkuk Almira dingin. Wajahnya menegang.

"Kenapa?" tanyanya lirih.

Erdoğan melirik sekilas ke arahnya. Rahangnya mengeras sesaat sebelum menjawab, "Karena ayahku memerintahkan begitu."

Jawaban singkat itu sudah cukup membuat ketakutan Almira tumbuh kembali. Tangannya makin dingin.

Erdoğan melihat jemari itu saling menggenggam begitu erat hingga buku-bukunya memutih.

"Kau istriku," katanya pelan. "Tidak akan ada yang menyentuhmu tanpa seizinku."

Almira memejamkan mata sesaat.

Entah mengapa kalimat itu tidak memberinya rasa aman.

Lihat selengkapnya