Kamar Erdoğan di rumah Çamlıca terasa lebih luas daripada yang diingat Almira. Langit-langitnya menjulang tinggi, sementara perabotan yang hanya beberapa buah membuat ruangan itu tampak lapang sekaligus dingin.
Ia berdiri di depan jendela, memandang hamparan lampu Istanbul yang berkelap-kelip jauh di bawah. Dari ketinggian itu, kota tampak damai, seolah tak pernah menyimpan kebohongan, pengkhianatan, ataupun ketakutan. Sulit dipercaya bahwa di antara jutaan cahaya itu, tak ada satu tempat pun yang terasa bisa menjadi rumah baginya.
Di belakangnya, Erdoğan berdiri tanpa bersuara.
Makan malam sudah diantar beberapa menit yang lalu. Uap dari sup di atas meja kecil dekat sofa mulai menghilang, tetapi tak satu pun dari mereka berniat menyentuhnya.
"Aku sudah menyerah." Suara pelan Almira terdengar cukup jelas untuk memecah kesunyian.
"Aku benar-benar berniat pergi. Pergi darimu... dan dari semua rahasia yang terus kau simpan."
Erdoğan menarik napas perlahan. "Kau aman bersamaku."
Sudut bibir Almira bergerak tipis. Senyum itu lebih menyerupai rasa putus asa daripada ejekan.
"Tidak ada tempat yang benar-benar aman untukku lagi." Ia mengusap pelan perutnya sebelum melanjutkan.
"Kalau mereka melepaskanku hari itu, bukan karena aku Almira." Tenggorokannya tercekat sesaat. "Mereka melepaskanku karena aku sedang mengandung anakmu."
"Mira..."
Ia berbalik begitu cepat hingga rambutnya ikut berayun.
"Kalian mengurungku. Mencegahku meninggalkan negara ini. Membawaku ke rumah yang paling kutakuti." Napasnya mulai memburu. "Lalu kau masih bisa mengatakan aku aman?"
Erdoğan melangkah mendekat. "Itu perlindungan."
Almira menggeleng. "Perlindungan tanpa persetujuan tetaplah penjara."
Kalimat itu membuat langkah Erdoğan terhenti. Ia tidak segera menemukan bantahan.
Jarak mereka tinggal beberapa langkah.
"Aku bahkan tidak tahu lagi siapa yang harus kutakuti," lanjut Almira, lebih pelan kali ini. "Ayahmu... rahasia yang kalian sembunyikan... atau kau."
Rahang Erdoğan mengeras.
"Apa yang menurutmu kusembunyikan?"
"Kebenaran."
"Kebenaran yang mana?"
"Kebenaran yang membuat detektif itu tidak pernah berhenti mencarimu."
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Erdoğan perlahan mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.
"Kau mempercayainya?"
Almira menggeleng. "Tidak."
Jawaban itu membuat Erdoğan sedikit mengangkat wajah.
"Tapi aku juga tidak tahu bagaimana harus mempercayaimu," lanjut Almira.
Kalimat itu terdengar jauh lebih pelan daripada sebelumnya. Dan justru karena itu, ia terasa lebih menyakitkan.
Erdoğan memejamkan mata sesaat.
"Kenapa kau ingin mengetahui semuanya?" tanyanya lirih. "Ada kebenaran yang tidak mengubah apa pun selain menambah luka."
Tatapan Almira tidak bergeser sedikit pun.
"Atau mungkin..." katanya pelan, "...kau hanya takut aku akan berhenti mencintaimu kalau mengetahuinya."
Kali ini Erdoğan benar-benar terdiam.
Almira menunggu.
Satu detik.
Dua detik.