Mereka meninggalkan rumah keluarga Yaşaran setelah sarapan yang dipenuhi senyum sopan dan percakapan yang sama sekali tidak berarti.
Begitu mobil berhenti di depan rumah Cevdet Paşa, Almira membuka pintu sendiri sebelum Erdoğan sempat mengitari mobil.
Ia tidak menunggu. Tidak menoleh. Tidak mengatakan apa pun.
Seda sudah berdiri di depan pintu ketika mereka tiba.
"Hoş geldiniz, Almira Hanımefendi. Erdoğan Beyefendi."
Almira hanya mengangguk tipis sebelum berjalan melewatinya.
Rumah itu masih sama seperti kemarin.
Tangga marmer yang mengilap. Bau bunga segar yang memenuhi ruang tengah. Cahaya matahari yang jatuh dari jendela-jendela tinggi.
Namun hari ini, semuanya terasa asing.
Ia menaiki tangga perlahan sambil menopang perutnya dengan satu tangan.
Sesampainya di kamar Erdoğan, ia langsung menuju walk-in closet. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan pakaian yang lebih longgar dan nyaman.
Erdoğan masih berdiri di ruang tengah. Seolah memang menunggunya.
"Mira."
Almira berhenti. Tatapannya jatuh pada lantai di antara mereka.
Erdoğan merogoh saku celananya, lalu membuka telapak tangan. Dua buah kunci tergeletak di sana.
"Kunci kamarmu."
Almira mengambil salah satunya.
"Dan kunci mobilmu."
Ia memandang benda berbentuk remote kecil itu beberapa saat sebelum ikut mengambilnya.
"Kau bisa kembali menggunakan kamar pribadimu," ucap Erdoğan.
Almira menunggu. Sudah pasti masih ada kalimat berikutnya.
"Kau boleh pergi ke mana pun."
Almira mengangkat wajah. "Tapi?"
Erdoğan mengembuskan napas pelan. "Dengan sopir."
Ia berhenti sejenak.
"Dan aku harus tahu kau berada di mana."
Almira tersenyum tipis. Bukan karena senang. Melainkan karena ternyata ia sudah bisa menebak setiap batas yang akan diberikan pria itu.
"Jadi..." katanya lirih. "Aku tetap tidak bebas."