Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #48

Masa Depan

Musim dingin hampir berakhir.

Langit Istanbul masih sering diselimuti awan kelabu, tetapi matahari mulai bertahan sedikit lebih lama setiap sore. Angin dari Bosphorus masih membawa hawa dingin, hanya saja tidak lagi setajam beberapa bulan sebelumnya.

Empat bulan telah berlalu sejak malam ketika Almira hampir menghilang.

Rumah di Cevdet Paşa tidak banyak berubah. Tirai putih masih bergoyang pelan setiap kali jendela dibuka. Lantai kayunya masih memantulkan cahaya matahari pagi. Dari kejauhan, suara kapal yang melintas di Bosphorus kadang terdengar samar, mengisi kesunyian rumah yang terlalu besar untuk hanya dihuni beberapa orang.

Yang berubah adalah orang-orang di dalamnya.

Almira dan Erdoğan masih hidup dalam rumah yang sama, tetapi tidak lagi menjalani hari-hari seperti suami istri pada umumnya.

Mereka tidak bertengkar. Mereka juga tidak benar-benar berdamai.

Percakapan mereka hanya berkisar pada hal-hal yang memang harus dibicarakan. Jadwal pemeriksaan kandungan. Vitamin yang harus diminum. Makanan yang boleh dan tidak boleh disantap. Sesekali Erdoğan bertanya apakah ia ingin berjalan-jalan sore atau membutuhkan sesuatu dari luar rumah.

Tidak lebih.

Tak seorang pun mencoba membuka kembali luka yang belum sembuh.

Namun ada kebiasaan-kebiasan kecil yang perlahan berubah tanpa pernah mereka sadari.

Erdoğan hampir selalu pulang sebelum matahari tenggelam.

Jika sebelumnya ia sering menghabiskan malam di kantor atau menghadiri jamuan bisnis, kini ia lebih banyak menyelesaikan pekerjaannya dari ruang kerja di rumah. Seusai makan malam, lampu ruang kerja memang tetap menyala hingga larut, tetapi Almira tahu pria itu tidak lagi pergi ke mana-mana.

Kadang, ketika keluar untuk mengambil air minum, ia mendapati pintu ruang kerja terbuka sedikit. Erdoğan masih duduk di depan laptopnya, tetapi begitu mendengar langkah kaki di lorong, pria itu akan mengangkat kepala sejenak, memastikan dirinya baik-baik saja, sebelum kembali bekerja.

Ia tidak pernah mengatakan apa pun. Begitu pula Almira.

Ada jarak yang masih berdiri di antara mereka, tetapi jarak itu tak lagi terasa setajam sebelumnya.

Dulu, setiap keheningan membuat Almira merasa sendirian.

Sekarang, keheningan itu hanya... ada.

***

Malam itu hujan turun sejak menjelang maghrib. Rintiknya memukul kaca jendela dengan pelan, mengiringi makan malam yang kembali berlangsung tanpa banyak percakapan.

Almira baru saja mengangkat gelas ketika sesuatu bergerak di dalam perutnya.

Ia spontan berhenti.

Lihat selengkapnya