Ketukan di pintu membuat Almira menoleh. Saat melihat Erdoğan masuk, ia mengernyit. Tidak biasanya pria itu mengetuk sebelum memasuki kamarnya.
"Sedang apa?" tanya Erdoğan. Langkahnya pelan, mendekat lalu duduk di sisi ranjang, di samping Almira.
"Buku," jawab Almira singkat tanpa mengangkat wajah.
Hening menggantung di antara mereka selama beberapa detik.
"Mau jalan-jalan?" tanya Erdoğan kemudian. "Udaranya tidak terlalu dingin. Kita bisa pulang saat makan malam."
Almira tidak segera menjawab. Pandangannya tetap pada halaman yang sedang ia baca.
"Atau kita makan malam di luar saja," tambahnya pelan.
Kali ini Almira mendongak. "Seperti di Balat?" suaranya datar. "Kalau begitu... aku tidak menikmatinya."
Wajah Erdoğan menegang sebentar, lalu melunak.
"Tidak kali ini," katanya. "Tapi tidak apa kalau kau tidak mau."
Ia hampir berdiri ketika Almira menutup bukunya.
"Aku ambil mantel dulu."
Beberapa menit kemudian mereka meninggalkan rumah.
"Mau ke mana?" tanya Almira, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan di depan.
"Ada satu tempat yang ingin kukunjungi."
Almira hanya mengangguk.
Tak ada percakapan saat mereka melintasi Jembatan Bosphorus. Kota berganti sisi. Laut memantulkan cahaya pucat sore yang mulai turun.
Di Üsküdar, Erdoğan membelok ke jalanan yang lebih sempit. Deretan toko kecil dan rumah kayu berwarna pastel mulai bermunculan di kiri-kanan jalan.
"Kuzguncuk?" gumam Almira.
Erdoğan meliriknya sekilas. "Kau pernah kesini?"
Almira menggeleng perlahan. Matanya mulai menyisir lingkungan itu.
Erdoğan memarkirkan mobilnya. Ia turun, memutari kap mesin, lalu membukakan pintu untuk Almira. Ia menawarkan tangan untuk membantunya keluar.
Mereka berjalan berdampingan di atas jalanan berpaving. Suasana sore itu cukup hidup: orang-orang duduk santai di depan kafe, aroma kopi dan roti panggang menguar di udara. Rumah-rumah kayu peninggalan era Ottoman berdiri tegap, warna-warna pastelnya yang mulai memudar justru memberikan kesan romantis yang sendu.
Langkah Almira melambat, lalu benar-benar berhenti di depan sebuah studio foto kecil. Kacanya sedikit berdebu, membiaskan cahaya sore yang mulai menguning. Di balik kaca itu, terpajang potret-potret sederhana: bayi yang baru lahir, pasangan lansia yang saling menggenggam tangan, hingga remaja dengan seragam kelulusan.
Bukan foto mewah. Bukan foto dengan latar istana atau taman megah. Hanya potret kehidupan biasa.
Erdoğan memandang papan kecil bertuliskan Foto Yıldız - Vesikalık & Aile Çekimi, lalu beralih pada Almira.
"Mau?" tanyanya.
Almira mengangguk.
Di dalam, seorang pria paruh baya menyambut mereka tanpa mengenali siapa pun. Ia hanya melihat sepasang suami-istri yang datang menjelang tutup.
"Berdiri sedikit lebih dekat," katanya santai sambil mengatur kamera.
Mereka saling menatap sebentar.
Tidak ada pose yang direncanakan. Tidak ada senyum yang dipaksakan. Almira tidak sepenuhnya tersenyum. Erdoğan juga tidak.
Kamera berbunyi. Satu kali. Dua kali.
"Cukup," ujar fotografer itu. "Ambil besok atau saya cetak cepat sekarang?"
"Sekarang," jawab Almira.
Mereka duduk berdampingan di bangku kayu sempit. Di luar, cahaya sore mulai berubah keemasan. Suara azan magrib terdengar samar dari kejauhan.
Foto itu akhirnya diserahkan dalam amplop tipis.
Di dalam mobil menuju rumah, Almira membuka amplopnya. Ia menatap foto itu beberapa detik sebelum menyodorkannya pada Erdoğan.