17.40
Langit di atas Istanbul mulai berubah menjadi abu-abu kebiruan ketika Osman Yaşaran mematikan laptopnya. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Di bawah sana, lalu lintas Levent mulai dipenuhi kendaraan yang pulang menuju rumah.
Ia tidak lagi memikirkan surel dari Zürich.
Yang memenuhi benaknya justru rangkaian langkah Erdoğan.
Dimulai dari permintaan membuka kembali arsip akuisisi Anadolu Property. Berlanjut pada proposal audit historis di rapat dewan. Lalu, ketika proposal itu ditolak, penunjukan firma hukum di Zürich.
Tidak ada satu pun langkah yang berdiri sendiri.
Erdoğan sedang mengejar sesuatu. Osman hanya belum mengetahui apa.
Apakah putranya benar-benar sedang mempertanyakan tata kelola perusahaan?
Atau Anadolu hanyalah pintu menuju sesuatu yang lebih lama?
Pikiran itu singgah sesaat, lalu ia menepisnya.
Enam tahun telah berlalu.
Tidak masuk akal jika semua ini masih berhubungan dengan satu kecelakaan yang sudah lama ditutup.
Namun justru itulah yang mengusiknya. Karena Erdoğan bukan tipe orang yang membuka kembali masa lalu tanpa alasan.
Kalau begitu... apa yang mengubah arah langkahnya?
Pikirannya berhenti pada satu peristiwa.
Penculikan Almira.
Sejak hari itu, Erdoğan bergerak dengan cara yang berbeda.
Tatapan Osman berubah tajam.
Di luar ruangannya, aktivitas Yaşaran Tower berjalan seperti biasa. Telepon berdering. Langkah kaki terdengar di koridor. Para staf keluar masuk ruang rapat.
Tak seorang pun menyadari bahwa arah permainan baru saja berubah.
Osman mulai menghitung kemungkinan-kemungkinan yang akan datang.
Audit internal masih dapat diarahkan. Komite dewan masih bisa dibentuk. Narasi masih bisa dikendalikan.
Namun begitu firma hukum di Zürich mulai bekerja, persoalan itu tidak lagi sepenuhnya berada di dalam Yaşaran Holding.
Ia telah keluar dari rumah.
Dan di luar sana, nama Yaşaran bukan hanya sebuah warisan.
Ia juga sebuah risiko.
Osman kembali ke mejanya. Ia meraih ponsel, tetapi bukan nomor Erdoğan yang dipilihnya.