Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #56

Setiap Simpul Memiliki Arti

Pagi di Çamlıca selalu sejuk dan tenang. Angin di awal musim semi berembus pelan, menggerakkan tirai linen yang membingkai jendela ruang tengah.

Hilmiye Yaşaran duduk di sofa dekat jendela. Secangkir teh hangat dan sepiring pastry tersaji di meja kecil di sampingnya. Jemarinya bergerak lincah memainkan sepasang jarum rajut, menyusupkan benang wol menjadi pola yang perlahan mulai membentuk sehelai syal.

Merajut telah menjadi kesukaannya sejak muda. Ketika teman-teman seusianya menghabiskan masa libur dengan pergi ke bioskop atau menghadiri pesta dansa, Hilmiye justru lebih senang menghabiskan waktu di kamar asramanya. Dengan sabar ia mengubah gulungan-gulungan benang menjadi taplak meja, alas teko, syal, atau baju hangat.

Merajut juga mengajarkannya satu hal sejak muda. Kesabaran. Setiap simpul harus diletakkan di tempat yang tepat. Satu kesalahan kecil dapat merusak seluruh pola yang telah dibangun dengan susah payah.

Begitulah pula cara ia dibesarkan.

Sejak kecil Hilmiye memahami bahwa menyandang nama Rüstemoğlu berarti setiap sikap memiliki arti, setiap kata membawa konsekuensi.

Nama Rüstemoğlu telah hidup jauh sebelum dirinya lahir. Nama yang pernah berdiri di samping para sultan, bertahan melewati runtuhnya kesultanan, lalu tetap dihormati ketika republik mengambil alih sejarah.

Dan Hilmiye tumbuh menjadi perempuan seperti yang diharapkan keluarganya. Cerdas, memahami situasi, serta tahu kapan harus berbicara dan kapan memilih diam.

Ketika lamaran dari keluarga Yaşaran datang, tak seorang pun menganggapnya kebetulan. Keluarga itu membawa kekayaan dan kekuasaan. Sementara Hilmiye membawa sesuatu yang tak dapat dibeli dengan uang. Nama Rüstemoğlu.

Bertahun-tahun ia berjalan setengah langkah di belakang Osman. Tidak pernah membantah di depan orang lain. Tidak pernah mempertanyakan keputusan suaminya, bahkan ketika hatinya sebagai seorang ibu memintanya melakukan sebaliknya.

Hingga enam tahun lalu.

Tanpa sengaja, ia mendengar satu nama keluar dari bibir suaminya.

Tak lama setelah itu, perempuan yang seharusnya menjadi menantunya meninggal. Erdoğan pergi jauh, meninggalkan rumah yang selama ini menjadi dunianya.

Hilmiye tetap tersenyum. Tetap menjalankan perannya. Namun ia tidak pernah lupa.

Dan semalam, setelah bertahun-tahun terkubur dalam diam, ia mendengarnya lagi.

Jarum rajut di tangannya terus bergerak. Benang wol itu melingkar perlahan, membentuk pola yang semakin utuh.

Untuk pertama kalinya, Hilmiye bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia masih akan memilih diam, seperti yang telah dilakukannya selama puluhan tahun.

Tatapannya jatuh pada rajutan kecil di pangkuannya.

Rajutan itu untuk cucunya. Di setiap simpul yang ia rapikan, terselip satu doa yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang. Semoga anak itu tumbuh dalam kehangatan dan kasih sayang.

Kehangatan yang, jauh di lubuk hatinya, ia tahu tidak pernah benar-benar dimiliki ayahnya.

Lihat selengkapnya