Malam hampir larut ketika Osman duduk di ruang kerjanya. Rumah utama di Çamlıca telah lama tenang. Hanya lampu meja yang masih menyala, memantulkan cahaya redup di atas permukaan kayu gelap.
Tangannya bertaut di pangkuan. Matanya menatap lurus ke depan. Ia jarang mengambil keputusan ketika emosinya belum sepenuhnya tenang. Dan keheningan selalu membantunya berpikir.
Beberapa saaat kemudian, tangan kanannya meraih laci paling bawah meja kerjanya. Dari dalamnya, ia mengambil sebuah ponsel yang modelnya telah bertahun-tahun tidak lagi diproduksi. Tidak tersimpan kontak. Tidak terhubung ke jaringan perusahaan. Hanya satu nomor yang bisa dihubungi.
Osman menekan tombol angka satu. Panggilan itu langsung tersambung di dering pertama.
"Osman Bey."
Suara di seberang sambungan terdengar berat, dalam, dan dingin.
"Pekerjaanmu, Ilyas."
"Semuanya tetap di tempatnya."
Hening sesaat.
"Pastikan tetap begitu."
"Baik."
Sambungan berakhir.
Osman mematikan ponsel itu, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Laci itu tidak pernah dikunci. Namun tak ada seorangpun di rumah ini yang berani membukanya. Bahkan dirinya sendiri tidak menyukainya.
Beberapa hari lalu, untuk pertama kalinya setelah enam tahun, ia kembali membuka laci itu.
Terakhir kali ia melakukannya adalah pada malam enam tahun lalu ketika Erdoğan, dalam kemarahannya, mengucapkan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan akan didengarnya.
Malam itu, ia hanya mengeluarkan perintah sederhana. Namun keesokan harinya, sebuah laporan dari klinik kecil di pinggiran kota diletakkan di atas mejanya.
Laporan yang sama sekali tidak pernah ia duga akan mengubah seluruh perhitungannya.