Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #60

Halaman Berikutnya

Dua hari kemudian, daftar permintaan dokumen fase kedua tiba di meja Osman Yaşaran menjelang siang. Ia membacanya perlahan.

Korespondensi pra-transaksi.

Memorandum internal.

Dokumen pendukung sebelum Executive Override.

Tidak ada perubahan pada wajahnya. Setelah lembar terakhir selesai dibaca, ia menutup map itu dan membiarkannya tetap berada di atas meja beberapa saat. Jari telunjuknya mengetuk permukaan kayu sekali.

"Lebih cepat dari yang saya perkirakan."

Serkan Aldur yang duduk di hadapannya mengangkat kepala.

"Berikan semuanya," ujar Osman tenang. "Jangan ada yang ditahan."

"Baik, Başkanım."

"Namun..." Osman berhenti sejenak. "Setiap dokumen harus disertai konteks."

Serkan mengangguk. Ia mengerti maksud kalimat itu.

Dokumen tidak pernah berbicara sendiri. Cara seseorang membacanya sering kali lebih menentukan daripada isi dokumen itu sendiri.

"Apakah ada dokumen yang perlu dipisahkan?" tanyanya lagi.

Osman menggeleng pelan. "Tidak."

Hening turun sesaat. Kemudian Osman berkata, nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

"Orang hanya mencari sesuatu jika mereka tahu sesuatu itu ada."

***

Hari itu Osman pulang lebih awal dari biasanya

Langit di atas Çamlıca mulai kehilangan warna birunya ketika mobilnya memasuki halaman rumah.

Seorang pelayan membukakan pintu. Hilmiye menyambutnya di ruang tengah sambil membawa secangkir teh hangat.

"Ingin makan malam disiapkan lebih awal?"

Osman menerima cangkir itu. "Tidak perlu." Ia tersenyum tipis. "Aku ingin sendiri sebentar."

Hilmiye hanya mengangguk.

Sudah puluhan tahun ia mengenal suaminya. Ada hari-hari ketika Osman membutuhkan percakapan. Ada pula hari-hari ketika ia hanya membutuhkan keheningan.

Hari ini termasuk yang kedua.

Ruang kerja itu masih sama seperti bertahun-tahun lalu. Rak-rak kayu tua. Jendela besar menghadap Bosphorus. Dan sebuah rak buku yang hampir memenuhi satu dinding.

Osman melepaskan arlojinya, membuka manset kemeja, dan menyandarkan jas di sandaran kursi. Barulah kemudian pandangannya berhenti pada sebuah buku tua yang terselip di rak paling atas.

Ia mengambilnya perlahan. Sampul kulitnya mulai kusam. Sudut-sudutnya retak dimakan usia.

The Count of Monte Cristo.

Di halaman pertama masih ada tulisan tangan yang mulai memudar.

"Untuk Osman. Orang yang mampu menunggu akan selalu memegang kendali."

Ia membaca kalimat itu lebih lama daripada halaman-halaman berikutnya.

Dulu ia percaya ayahnya sedang mengajarkan cara memenangkan hidup.

Kini, ia mulai bertanya-tanya... apakah sebenarnya itu sebuah peringatan.

Osman membuka beberapa halaman.

Edmond Dantès masih menunggu dengan kesabaran yang hampir mustahil dimiliki manusia biasa.

Lihat selengkapnya