Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #61

Tanda Tanya Sebelum Garis

Erdoğan sampai di rumah pukul sembilan tepat.

Almira yang sedang duduk di sofa ruang tengah, berusaha bangkit. Tangannya bertumpu pada pegangan sofa, sebelum mengangkat tubuhnya. Gerakan yang terlihat mudah, tapi bagi perutnya yang mulai membulat, dan berat tubuhnya yang naik beberapa kilogram, hal itu tampak sedikit menyulitkannya.

Erdoğan segera melangkah mendekat.

"Kenapa belum tidur?" ucapnya pelan.

"Aku menunggumu," balas Almira.

Erdogan menatap sejenak wajah istrinya. Wanita yang dulu ia anggap sebagai pelampiasan, kesepakatan bisnis —apa pun— tapi bukan cinta, kini menjadi tempatnya pulang.

"Tidurlah. Ini sudah larut," ujarnya kemudian.

"Aku tidak bisa tidur. Akhir-akhir ini sulit rasanya bisa terlelap," keluh Almira pelan.

Erdoğan bisa melihat keluhan itu benar adanya. Ada lingkaran hitam samar di kedua kelopak mata Almira.

"Kita ke dokter?"

"Tidak perlu." Almira menggeleng. "Dokter bilang memang seperti ini. Nanti juga berubah."

Kini ganti Almira yang menatapnya. "Bagaimana makan malamnya? Semua baik?"

Erdoğan mengangguk. "Baik." Ia tersenyum menenangkan. "Annen menitip salam untukmu."

Almira ikut tersenyum. "Aku akan mengunjunginya kapan-kapan."

Lalu mendadak senyum itu menghilang. Erdoğan mengetahui apa yang sedang dipikirkan Almira. Penculikan itu masih meninggalkan bekas yang belum sepenuhnya hilang.

"Istirahatlah," ucap Erdoğan berusaha mengalihkan kegelisahan itu.

Almira mengangguk patuh.

Erdoğan menuntunnya menaiki anak tangga hingga sampai di kamarnya. Setelah memastikan istrinya berbaring dengan nyaman, ia menarik selimut hingga menutupi bahunya.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Erdoğan mematikan lampu kamar dan menutup pintu perlahan. Detik berikutnya, ia berjalan di lorong, berhenti di depan ruang kerjanya, lalu masuk. Ia menuju ke meja kerja dan membuka laptop.

Surel terakhir dari Keller & Brunner.

Phase Two Document Request.

Permintaan tahap kedua telah berjalan. Berarti Zürich mulai menemukan sesuatu.

Erdoğan menutup matanya sejenak. Wajah ibunya melintas di benaknya. Senyum yang tercetak di bibirnya sembari mengucapkan, "Lakukanlah."

Lalu wajah ayahnya.

Seumur hidup, ayahnya selalu mengambil keputusan lebih dahulu. Erdoğan hanya diminta menjalaninya. Tidak pernah mempertanyakannya, tidak pernah pula mencoba melawan. Ia berniat patuh hingga akhir.

Lihat selengkapnya