Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #63

Yang Tak Pernah Benar-Benar Usai

Enam Tahun Lalu - Restoran yang Sama


Hujan turun sejak pagi. Butir-butirnya memukul atap mobil tanpa jeda, memburamkan jalanan Istanbul yang telah kehilangan warna di penghujung musim gugur.

Feride duduk diam di kursi belakang. Tangannya terlipat di pangkuan, tatapannya lurus ke luar jendela.

Ia sudah melewati rumah sakit. Sudah melewati pemakaman. Sudah melewati satu tahun tanpa Ayşe. Namun siang itu, untuk pertama kalinya, ia akan duduk berhadapan dengan laki-laki yang ia yakini telah merenggut putrinya.

Mobil berhenti. Seorang pelayan berpakaian kimono membungkukkan badan.

"Silakan, Hanımefendi."

Feride mengikutinya melewati lorong kayu yang sunyi. Pintu geser di ujung lorong terbuka perlahan.

Osman Yaşaran telah menunggu. Ia duduk tegak di depan meja rendah. Secangkir teh masih mengepulkan uap tipis di depannya. Ia tidak menoleh ketika Feride tiba.

Feride berhenti sesaat di ambang pintu. Pandangan mereka akhirnya bertemu. Dadanya seolah diremas sesuatu yang dingin.

Wajah yang selama setahun terakhir hanya ia lihat dalam ingatan, kini berada beberapa langkah di depannya.

Ia ingin bertanya, ingin berteriak. Ia ingin menanyakan satu hal.

Kenapa?

Namun tak satu pun keluar.

Ia berjalan mendekat. Duduk di hadapan Osman. Pelayan menuangkan teh untuknya, lalu pergi.

Pintu kembali tertutup. Keheningan segera mengambil alih ruangan.

Feride mengangkat cangkirnya. Tangannya nyaris tak bergetar. Hanya ia sendiri yang menyadari jemari kirinya berkali-kali menggenggam lalu melepaskan kain gaun di balik meja.

Osman menunggu.

Ia tahu perempuan di depannya bukan datang untuk minum teh. Tetapi ia juga tahu, orang yang mengawali percakapan adalah orang yang lebih membutuhkan lawan bicaranya.

Maka ia memilih diam.

Satu menit berlalu. Dua menit.

Akhirnya Feride meletakkan cangkirnya.

"Aku tahu siapa yang berada di balik semuanya," suaranya pelan, namun tidak menyisakan sedikit pun keraguan.

Osman tidak bergerak. Tatapannya tetap tenang.

Feride melanjutkan, "Putriku meninggalkan sesuatu." Ia berhenti. "Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kau temukan."

Raut wajah Osman berubah, hanya sesaat. Begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Lalu semuanya kembali datar.

"Kalau begitu..." Akhirnya ia berbicara, "...kenapa kau datang kepadaku?"

"Karena polisi tidak akan pernah menang melawanmu."

Jawaban itu meluncur tanpa emosi, seolah telah diulang ribuan kali di dalam kepalanya.

Osman memandang perempuan itu lebih lama. Ia sedang menilai, apakah ancaman ini nyata, atau hanya duka seorang ibu yang kehilangan anaknya.

Jemarinya mengetuk meja sekali. "Apa yang kau inginkan?"

Feride membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah foto seorang gadis muda yang berdiri di depan rumah sederhana, dengan perbukitan hijau di belakangnya. Foto itu diletakkannya di tengah meja.

"Tetapkan kembali perjodohan Erdoğan dengan keluarga Hassan." Ujung telunjuknya menyentuh foto itu pelan. "Dengan dia."

Osman melirik sekilas. Tidak lebih dari dua detik.

"Siapa?"

"Kerabat Ahmed."

Feride menatap lurus ke arahnya.

"Satu darah. Yatim piatu." Ia berhenti sedetik. "Tidak punya ambisi."

Osman menyandarkan punggungnya.

"Kalau aku melakukan apa yang kau minta..." Tatapannya tetap tertuju pada Feride, "...apa yang akan kau berikan?"

"Keheningan."

Jawaban Feride datang secepat tarikan napas.

Osman tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.

"Keheningan..." Ia mengulang kata itu pelan. "...terlalu murah."

Keheningan kembali turun. Kali ini lebih panjang. Lebih berat. Hingga akhirnya Osman berkata,

"Empat puluh persen saham Hassan Company."

Feride tidak segera menjawab. Napasnya terdengar sedikit lebih berat.

Ia memahami apa arti kalimat itu. Osman tidak sedang membeli keheningannya. Ia sedang membeli masa depan keluarga Hassan.

Beberapa detik berlalu. Lalu Feride mengangkat pandangannya.

"Baik."

Suaranya nyaris tak berubah.

"Kita sepakat."

Tak ada jabat tangan. Tak ada dokumen yang ditandatangani hari itu.

Namun ketika Feride melangkah keluar dari restoran, keduanya sama-sama mengetahui bahwa sebuah kesepakatan telah lahir.

Lihat selengkapnya