Pukul tujuh pagi, Erdoğan masuk ke ruang makan. Almira sudah duduk di sana, menunggunya.
"Günaydın," sapa Erdoğan sambil menarik kursi.
Mereka makan seperti biasa, berbicara tentang keadaan Almira dan apa yang dibutuhkan istrinya itu. Namun selama beberapa detik, pikiran Erdoğan beranjak ke tempat lain.
Ke ruang rapat Yaşaran Tower.
Ke rapat yang akan berlangsung beberapa jam lagi.
Rapat yang mungkin menentukan segalanya.
"Erdoğan."
Suara Almira seperti menariknya kembali ke ruang makan dengan jendela-jendela kaca tinggi itu.
"Ya," balas Erdoğan cepat. "Kenapa, Mira?"
"Tidak. Kupikir kau tidak mendengar ucapanku."
"Aku mendengarkanmu," jawab Erdoğan meyakinkan. "Kita akan ke dokter agar lebih jelas."
"Tidak, tidak perlu. Kata dokter, semakin dekat dengan hari persalinan, aku akan lebih sering mengalami kontraksi palsu."
"Baiklah." Erdoğan tersenyum kecil. "Tapi segera hubungi aku kalau kau merasa tidak nyaman. Kita akan langsung ke rumah sakit."
Almira mengangguk.
Erdoğan kemudian bangkit dan menghampirinya. Ia mengelus pucuk kepala wanita itu sebelum membungkuk dan menciumnya. Dalam dan lama.
Almira mendongak menatapnya. Mata cokelatnya bertemu dengan mata hijau Erdoğan.
Ada kehangatan di sana. Cinta yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Dan demi tatapan hangat itu, Erdoğan rela melakukan apa pun. Bahkan jika yang harus ia hadapi adalah sosok yang selama ini menjadi panutannya.
"Aku pergi dulu. Kuusahakan pulang lebih awal."
"Hm."
Ibu jarinya mengusap pipi Almira sebelum ia berbalik dan meninggalkan ruang makan.
***
Pukul sepuluh pagi, ruang rapat utama Yaşaran Holding yang terletak di lantai tertinggi telah dipenuhi anggota dewan direksi.
Ruangan itu dikelilingi kaca yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit distrik Levent, dan Boaphorus di kejauhan. Meja panjang berlapis kayu gelap membentang di tengah ruangan. Di atasnya telah tersedia sebuah binder untuk setiap anggota Dewan.
Independent Governance Review.
Laporan dari Keller & Brunner.
Tidak ada anggota dewan yang tidak mengetahui bahwa sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi.
CFO duduk di sisi kanan meja. General Counsel berada tidak jauh darinya, bersama dua anggota Audit Committee dan tiga Independent Director. Sekretaris Dewan berdiri di dekat layar besar, memeriksa kembali dokumen yang akan digunakan dalam rapat.
Percakapan di ruangan itu berlangsung pelan. Tapi tak satupun berbicara tentang alasan mereka berada di sana, seakan mereka tidak ingin terlihat memihak salah satu kubu.
Pintu terbuka. Semua kepala menoleh hampir bersamaan.
Erdoğan masuk. Ia memakai setelan jas dan dasi gelap. Wajahnya tenang. Ia mengangguk singkat kepada beberapa anggota dewan sebelum mengambil tempatnya di ujung meja, dua kursi dari tempat duduk Chairman.
Beberapa menit kemudian pintu kembali terbuka. Osman Yaşaran masuk. Percakapan yang tersisa langsung terhenti. Beberapa anggota dewan berdiri. Osman mengangguk sebagai balasan.
Ia berjalan menuju tempat duduknya di kepala meja.
Tempat duduk Chairman.
Ia merapikan jasnya, lalu mengangkat pandangan.
Tidak ada senyum di wajahnya. Dia hanya mengamati satu wajah, lalu wajah lainnya.
Direktur yang terlalu banyak menggerakkan jarinya. CFO yang sejak tadi menghindari tatapannya, seorang Independent Director yang duduk tegak. General Counsel yang tampak lebih tegang dari biasanya.
Dan Erdoğan.
Putranya duduk dua kursi dari tempatnya. Sikapnya tenang. Terlalu tenang.
Osman tidak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui bahwa rapat pagi ini bukan hanya membahas tentang laporan.
Ia hanya belum tahu seberapa jauh putranya akan membawanya.