Karanlık Sevda - Sebuah Kesepakatan

Erika Hasan
Chapter #67

Rahasia Yang Tak Lagi Sendiri

Almira berdiri di depan jendela kaca kamar tidurnya. Di luar, Bosphorus memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam, menciptakan garis-garis keemasan yang berkilau di permukaannya.

Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya hanya berputar pada satu nama.

Erdoğan.

Sejak pagi, Almira bisa merasakan ada sesuatu yang berubah pada suaminya. Ia melihatnya dari cara Erdoğan beberapa kali kehilangan fokus saat sarapan, dari tatapannya yang sesekali menerawang ke tempat yang tidak bisa ia jangkau.

Ia menyadari, ada sesuatu yang sedang membebani hati Erdoğan.

Ponselnya berdering.

Almira segera mengangkatnya ketika melihat nama yang tertera di layar.

"Alo, Baba."

"Mira, apa kau sudah bicara dengan Erdoğan hari ini?"

"Belum."

Kening Almira berkerut. Ayahnya tidak pernah bertanya seperti itu.

"Ada apa, Baba?"

"Ada rapat luar biasa di Yaşaran Holding pagi ini."

"Rapat?"

Nada suara Almira sedikit meninggi tanpa sadar.

"Tentang apa?"

Ayahnya terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Aku tidak tahu seluruhnya. Tapi ada satu keputusan yang cukup besar."

"Keputusan apa?"

"Kewenangan khusus Chairman dibekukan sementara."

Jemari Almira mengencang di sekitar ponselnya.

"Dan..."

Ayahnya kembali berhenti.

"Ada investigasi terhadap sebuah akuisisi di masa lalu."

Almira menahan napas. Ia tahu akuisisi apa yang dimaksud.

Anadolu.

Nama yang selama setahun terakhir tidak pernah benar-benar meninggalkan pikirannya.

Akuisisi yang menghubungkan bukan hanya satu, tetapi dua kematian.

Mert... Ayşe...

Nama itu nyaris keluar dari bibirnya, tetapi berhasil ia tahan.

Lalu suara ayahnya terdengar kembali.

"Sepertinya Erdoğan yang memulainya."

Tubuh Almira menegang. Tangan yang memegang ponsel hampir terlepas.

"Baik, Baba. Aku... aku akan menanyakannya langsung kepada Erdoğan."

Suaranya bergetar meski ia berusaha menyembunyikannya.

"Tentu, Mira."

Ayahnya terdiam sesaat.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Erdoğan dan ayahnya. Tapi kurasa..." Suaranya melambat. "Erdoğan sudah menentukan sikapnya."

Almira tidak menjawab.

Sambungan itu terputus.

Baru setelah layar ponselnya kembali gelap, Almira menyadari kedua tangannya gemetar.

"Mungkinkah..."

Suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

"Mungkinkah ini yang selama ini Erdoğan lakukan?"

Tubuhnya kehilangan tenaga. Ia terduduk di sisi tempat tidur, sementara pandangannya kembali tertuju pada Bosphorus yang perlahan kehilangan cahaya.

Jadi ini yang membuat Erdoğan kehilangan fokusnya pagi tadi.

Sesuatu yang belum pernah Almira lihat sebelumnya.

Ia bangkit kembali, kemudian berjalan perlahan di dalam kamar.

Satu pertanyaan muncul.

Lalu pertanyaan berikutnya.

Kalau Erdoğan membuka kembali penyelidikan terhadap Anadolu, maka penyelidikan itu akan membuka pintu-pintu yang selama ini menyimpan masa lalu.

Lihat selengkapnya