Mereka duduk berdampingan di depan meja kerja. Satu kursi kecil dengan sandaran punggung telah disediakan untuk Almira.
Erdoğan memasukkan micro SD ke dalam port komputer. Beberapa detik kemudian, layar menampilkan ratusan file yang tersimpan di dalamnya.
Jantung Almira berdegup lebih cepat. Ia sudah mengetahui sebagian isinya. Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia melihatnya bersama Erdoğan.
Ada rasa penasaran yang bercampur kecemasan di dalam dirinya.
Bagaimana Erdoğan akan menanggapi semua yang ada di dalam benda kecil itu?
Jemari Erdoğan mengklik file paling awal. Isinya seperti yang pernah Almira lihat. Percakapan ringan antara Ayşe dan Mert. Tidak ada yang tampak penting.
Almira melirik Erdoğan. Wajah pria itu tenang. Datar.
Belum selesai video itu diputar, Erdoğan menekan tanda X.
File berikutnya dibuka. Kemudian yang ketiga.
Isinya tidak jauh berbeda. Erdoğan menghentikan ketiganya sebelum video selesai. Namun ia tidak terlihat kecewa. Ia justru membuka salah satu file yang bertanggal tujuh tahun lalu, pada musim semi.
Begitu video itu diputar, Almira segera memalingkan wajah, seperti saat pertama kali melihatnya.
Suara desahan dari speaker memenuhi ruang kerja itu.
Wajah Almira memerah. Malu bercampur jijik membuatnya sulit menatap layar.
Setelah berhasil menguasai dirinya, ia kembali menoleh. Wajah Erdoğan masih sama. Tenang. Datar.
Tidak ada keterkejutan, kemarahan, atau emosi apa pun yang bisa Almira baca.
Jemari Erdoğan bergerak menuju tanda X.
"Aku tahu tidak menyenangkan melihat itu," ujar Almira lirih. Ada rasa bersalah dalam suaranya. Ia menundukkan kepala, jemarinya saling bertaut di pangkuan. "Tapi kurasa kita harus menelusuri jawabannya satu per satu."
Tangan Erdoğan berhenti. Kemudian perlahan, tangannya berpindah dan menangkup jemari Almira. Ia meremasnya lembut.
"Aku tidak apa-apa." Suaranya rendah. "Sudah kubilang. Itu masa lalu."
Almira mendongak. Ia menatap wajah Erdoğan yang tetap tenang. Ia tahu, pria itu mengatakan yang sebenarnya.
Senyum perlahan mengembang di bibirnya. Almira akhirnya benar-benar menyadari bahwa masa lalu itu tidak lagi memiliki tempat di antara mereka. Erdoğan telah sepenuhnya menjadi miliknya.
Dan ia tidak lagi hidup sebagai pengganti perempuan lain.
"Kita lanjut?" tanya Erdoğan. "Masih banyak file yang belum kita lihat."
Almira mengangguk. "Mungkin kita tidak tidur malam ini," balasnya setengah bercanda.
"Kalau kau kuat."
"Aku kuat." Jawaban itu terdengar yakin. "Lagipula, akhir-akhir ini aku memang jarang bisa tidur."
"Kenapa tidak bilang?" Nada khawatir terdengar jelas dalam suaranya. Ia kembali meremas lembut tangan Almira. "Bukankah sudah kubilang? Katakan padaku kalau kau merasa tidak nyaman."
Almira tersenyum kecil. Ia menyentuh sisi wajah Erdoğan.
"Aku tidak apa-apa. Wanita hamil memang begitu."
Erdoğan menghela napas. "Baiklah. Beberapa video lagi saja. Kita lanjut besok."
Almira mengangguk.
Tangan Erdoğan kembali menggerakkan mouse. Kursor berhenti pada salah satu file bertanggal musim panas di tahun yang sama.
Bulan ketika Ayşe meninggal.
Jantung Almira kembali berdegup kencang.
Erdoğan mengkliknya.
Ruang tamu bernuansa putih kembali muncul di layar. Kali ini wajah Ayşe terlihat jelas. Kamera tampaknya diletakkan lebih jauh di sudut ruangan, sehingga hampir seluruh ruangan terlihat. Namun suara mereka tetap terdengar cukup jelas.
Ayşe duduk di sofa. Tubuhnya terlihat gelisah. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.
Di depannya, Mert berjalan mondar-mandir. Wajah tampannya juga menunjukkan kecemasan.
"Kenapa kau memberitahu ibumu?"
Suara Mert terdengar sedikit meninggi. Bukan marah. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha menahan kepanikan.
"Kupikir..." Ayşe menelan ludah. "Kupikir Annem akan mengerti dan membatalkan rencana pernikahan itu."
Mert berhenti. Tatapannya jatuh pada wajah Ayşe.
"Lalu, apa dia mengerti?" Dadanya naik turun. "Apa dia menghentikan pernikahan itu meski dia tahu kau sedang mengandung anakku?"
"Oh, Tuhan..." Seruan itu lolos dari bibir Almira. Tangannya spontan menutup mulut. Ia menoleh cepat kepada Erdoğan.
Untuk pertama kalinya sejak video itu diputar, ekspresi pria itu berubah. Hanya sepersekian detik. Matanya melebar. Rahangnya mengeras. Lalu kembali terkendali.
Almira mengalihkan pandangan ke layar.
Ayşe menggeleng. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.