Pagi di Yaşaran Tower berjalan seperti biasanya. Lobi tetap dipenuhi orang-orang yang datang dengan langkah tergesa, lift terus bergerak dari satu lantai ke lantai lainnya, dan suara percakapan terdengar di hampir setiap sudut gedung. Kesibukan itu membuat seolah tidak ada yang berubah.
Padahal sejak rapat dewan, banyak hal telah bergeser.
Erdoğan memasuki lift khusus yang membawanya ke lantai tiga puluh delapan. Ketika pintu lift terbuka, sekretarisnya sudah menunggu di depan ruang kerja.
"Günaydın, Erdoğan Bey."
Erdoğan hanya mengangguk singkat sebelum masuk.
Beberapa menit pertama terasa sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia membuka surel, memeriksa agenda, lalu mulai membaca laporan yang sudah menunggu di atas mejanya.
Segalanya tampak normal sampai sebuah laporan mengenai investasi baru di Praha diletakkan di hadapannya.
"Kami masih menunggu keputusan dewan mengenai kelanjutan investasi ini," jelas CFO yang duduk di seberangnya.
Erdoğan membaca beberapa halaman tanpa mengangkat kepala. Dahulu, keputusan seperti ini mungkin hanya membutuhkan satu tanda tangannya. Sekarang, bahkan keputusan yang selama ini berada dalam kewenangannya harus melewati jalur yang sudah ditetapkan.
Ia menutup laporan itu.
"Lanjutkan sesuai prosedur."
CFO mengangguk. "Baik, Erdoğan Bey."
Setelah pria itu meninggalkan ruangan, sekretarisnya masuk membawa beberapa catatan lain.
"Erdoğan Bey, beberapa anak perusahaan meminta klarifikasi."
"Tentang apa?"
"Status kewenangan Chairman."
Erdoğan mengalihkan pandangan dari layar komputernya.
"Sampaikan bahwa operasional perusahaan tetap berjalan seperti biasa. Perubahan hanya berlaku pada kewenangan yang tercantum dalam resolusi dewan."
"Baik, Erdoğan Bey."
Sekretarisnya hendak berbalik ketika Erdoğan menambahkan, "Pastikan mereka menerima penjelasan tertulis. Aku tidak ingin ada keputusan yang tertunda hanya karena orang-orang tidak memahami batas kewenangan yang baru."
"Baik."
Erdoğan kembali membuka dokumen di layar.
"Erdoğan Bey," sekretarisnya kembali berkata, "Ahmed Bey dari Hassan Company meminta bertemu dengan Anda."
Erdoğan tidak terkejut. Ia sudah menduga pertemuan itu akan datang cepat atau lambat.
"Jadwalkan makan siang. Di restoran biasa."
"Baik."
Setelah sekretarisnya keluar, Erdoğan bersandar pada kursinya. Ia memejamkan mata selama beberapa detik sebelum kembali menatap layar.
Ia tahu apa yang baru saja dilakukannya akan mengubah banyak hal. Namun, ia tidak melakukannya untuk mengalahkan ayahnya.
Ia melakukannya karena seseorang harus menghentikan siklus yang selama ini dianggap normal di dalam keluarganya. Dan ironisnya, ia menggunakan aturan yang dulu dibangun ayahnya sendiri untuk mempertahankan kendali.
Seperti yang pernah diajarkan ayahnya kepadanya.
Hanya saja kali ini, aturan itu berdiri di hadapan Osman Yaşaran.
Pukul setengah satu, Erdoğan meninggalkan kantornya.
Tepat pukul satu, mobilnya berhenti di depan restoran. Ia segera menuju ruang privat yang telah dipesan. Ahmed Hassan sudah menunggu di sana.
Begitu melihat Erdoğan, Ahmed bangkit.
"Erdoğan." Ia mengulurkan tangan.
"Ahmed Baba." Erdoğan menerima uluran tangan itu sebelum mereka duduk berhadapan.
Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Ahmed membiarkan keheningan itu tinggal di antara mereka sebelum akhirnya berkata,
"Jadi, kau akhirnya memulainya."
Erdoğan mengangkat pandangan. Ia meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas tatakan.
"Ya."
"Sesuatu yang seharusnya kaulakukan bertahun-tahun lalu."
Jari Erdoğan mengencang di sekitar pegangan cangkir.
Ahmed memperhatikannya sejenak.
"Karena Almira?"
"Karena aku yang harus melakukannya."
Jawaban itu membuat Ahmed mengangguk pelan.
"Tentu." Ia menyandarkan punggungnya. "Kalau bukan kau, mungkin tidak akan ada orang yang berani menghentikannya."