Senja mulai turun di Istanbul. Cahaya jingga memantul di permukaan Bosphorus ketika mobil yang ditumpangi Almira melintasi jembatan.
Matanya masih sembap. Sesekali air mata kembali jatuh di pipinya, meski berkali-kali sudah ia hapus dengan ujung jari. Di balik kemudi, Kemal tetap berkonsentrasi pada jalan. Ia tidak bertanya apa pun, seolah mengerti bahwa saat ini istri tuannya itu tidak membutuhkan pertanyaan.
Untuk kesekian kalinya, Almira mengusap pipinya. Kemudian tangannya masuk ke dalam tas hitam yang berada di sampingnya.
Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul merah dengan gembok kecil yang sudah terbuka.
Diary Ayşe.
Dari sela-sela halamannya, Almira mengambil selembar kertas yang baru saja diberikan ibunya.
Ia sudah membacanya sekilas di taman. Namun kali ini, ia membacanya lagi dengan lebih perlahan, seolah berharap ada sesuatu yang terlewatkan sebelumnya.
"Malam itu aku melihat seorang pria keluar dari pintu belakang rumah. Aku tidak mengenalnya. Dia tinggi, wajahnya kaku. Ketika kami berpapasan di taman, tatapannya membuatku sadar bahwa aku seharusnya tidak berada di sana.
Erdoğan tahu ayahnya punya orang kepercayaan. Tapi apakah dia tahu sejauh mana orang itu menjalankan tugasnya?
Aku tidak tahu apakah Erdoğan menyadari betapa berbahayanya ayahnya. Mungkin dia tidak akan pernah percaya padaku jika aku mengatakannya. Tapi aku harus mengingat satu hal ini.
Jangan pernah percaya pada Osman Yaşaran."
Almira menurunkan kertas itu perlahan. Ia memejamkan mata beberapa saat sebelum kembali menatap jalan di depannya.
Sekali lagi, pertanyaan yang sama muncul di kepalanya.
Siapa pria itu?
Apakah Erdoğan mengenalnya?
Dan yang paling membuatnya takut—apakah Osman Baba benar-benar orang dibalik semua misteri ini?
Jari-jari Almira kembali gemetar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak semakin cepat.
Satu hal sudah ia putuskan.
Sesampainya di rumah, ia akan membicarakannya dengan Erdoğan.
-----
Pukul enam sore, Erdoğan tiba di rumah. Almira sudah menunggunya di dekat pintu depan. Begitu melihatnya, Erdoğan mendekat, mengecup dahinya, lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"Bagaimana harimu?"
"Baik." Almira terdiam sesaat. "Setidaknya, aku berharap begitu."
Erdoğan langsung memperhatikan wajahnya. "Ada apa?"
"Tidak ada."
"Mira." Nada suaranya berubah lebih serius. "Ada yang membuatmu tidak nyaman?"
Almira menggeleng pelan. "Aku tadi mengunjungi ibuku."
Erdoğan mengangguk. "Apa yang terjadi?"
Almira menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis. "Nanti saja. Setelah makan malam."
Kening Erdoğan berkerut. Jelas ia tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tetapi akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
---
Setelah makan malam, mereka duduk berdua di sofa kamar. Almira mengambil selembar kertas dari meja dan menyerahkannya kepada Erdoğan.
"Apa ini?"
"Halaman yang hilang dari diary Ayşe."
Erdoğan mengambilnya.
"Seperti yang kuduga," lanjut Almira, "Ibuku yang menyimpannya."
Erdoğan membaca tulisan itu.
Sekali.
Lalu sekali lagi.
Rahangnya mengeras ketika sampai pada kalimat terakhir.
"Aku ingat," katanya akhirnya. Ia masih menatap kertas itu. "Malam itu, beberapa jam setelah makan malam, aku meninggalkan Ayşe di kamar tamu karena harus pergi ke ruang kerja. Ketika aku kembali, dia sudah pergi. Dia bahkan tidak berpamitan kepada siapa pun."
Erdoğan berhenti sejenak.
"Beberapa waktu kemudian, dia mengirimiku pesan."
Almira menatapnya. "Dan pria itu?"
Erdoğan mengangkat wajah. "Ayahku memang punya seseorang yang dia percayai."
"Siapa dia?"
"Aku tidak tahu."
Almira mengerutkan kening. "Kau tidak pernah bertanya?"
"Tidak." Erdoğan menyandarkan punggungnya ke sofa. Tangannya naik memijat pelipis, lalu ia mengembuskan napas panjang.
Almira menyentuh lengannya dengan lembut. Ia tahu betapa berat posisi yang harus dihadapi suaminya. Di satu sisi, Osman Yaşaran adalah ayah kandung Erdoğan. Namun di sisi lain, ia adalah seorang pria yang selama hidupnya terbiasa melakukan apa pun untuk mempertahankan kendali.
"Kita akan menemukan jalannya," kata Almira pelan.
Erdoğan menegakkan tubuhnya. Ia menatap wajah istrinya cukup lama sebelum menggeleng.
"Tidak, Mira. Sudah kukatakan, kali ini bukan kita."