Suara konstan dari monitor jantung terdengar di kamar observasi rumah sakit.
Almira menahan rasa sakit di perutnya yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata. Rasanya seperti diremas dari dalam. Namun ia tidak mengeluh. Hanya menggigit bibir, berharap rasa sakit itu sedikit teralihkan, sementara jemarinya menggenggam erat tangan Erdoğan.
"Sebentar lagi dokter datang. Bersabarlah."
Suara Erdoğan terdengar tenang, tetapi Almira bisa melihat ketegangan di wajahnya. Tangannya yang lain mengusap lembut dahi Almira yang basah oleh keringat, meski pendingin udara di ruangan itu bekerja maksimal.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Seorang dokter masuk bersama seorang perawat. Erdoğan segera bangkit berdiri.
"Kami akan melakukan operasi caesar segera, Yaşaran Bey," kata dokter itu cepat. "Detak jantung janin melambat, sementara pembukaan belum terjadi."
Wajah Erdoğan menegang.
"Erdoğan…" panggil Almira lirih. Suaranya terdengar dipenuhi ketakutan.
Erdoğan kembali mendekat ke ranjang.
"Semua akan baik-baik saja. Dokter akan melakukan yang terbaik."
"Bayiku…"
"Dia akan baik-baik saja."
Erdoğan menegakkan tubuh dan menatap dokter itu.
"Lakukan yang terbaik."
Dokter mengangguk.
Saat Almira dipindahkan ke brankar, ia masih bisa mendengar suara Erdoğan di belakangnya.
"Selamatkan istri saya. Apa pun yang terjadi."
Almira menutup mata erat-erat. Di dalam hati, ia mengucapkan doa yang sama sejak rasa sakit itu mulai datang.
Jika Tuhan masih memberinya kesempatan, ia hanya ingin melihat anaknya lahir dan kembali ke rumah bersama pria yang dicintainya.
Beberapa waktu kemudian, tangis bayi memenuhi ruang operasi. Suara itu membuat dada Almira sesak oleh haru.
Meski tubuhnya terasa lemah dan bagian bawah tubuhnya belum bisa digerakkan, ia berusaha membuka mata ketika seorang perawat mendekatkan bayi mungil yang masih menangis ke sisinya.
"Selamat, Yaşaran Hanım. Bayi laki-laki Anda lahir dengan selamat."
Air mata langsung mengalir di pipi Almira. Ia bahkan tidak mampu mengatakan apa-apa selain satu kata.
"Alhamdulillah."
---
Beberapa hari kemudian, Almira diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Rasa nyeri di perutnya masih terasa setiap kali ia bergerak, tetapi keberadaan bayi kecil yang kini berada dalam pelukannya membuat semua rasa tidak nyaman itu terasa jauh lebih ringan.
Erdoğan tidak pernah benar-benar meninggalkannya selama berada di rumah sakit. Ia selalu ada ketika Almira membuka mata, memastikan istrinya makan, beristirahat, dan mendapatkan semua yang dibutuhkannya.
Kini mereka pulang dengan seseorang yang tidak pernah mereka bayangkan akan mengubah rumah itu selamanya.
Selim.
Sesampainya di rumah, Fatma dan Seda sudah menunggu di depan pintu. Keduanya tersenyum lebar ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Almira.
"Selamat, Hanımefendi," kata Fatma. "Semoga Anda dan bayi Anda selalu diberi kesehatan dan perlindungan dari Allah."
"Terima kasih." Almira tersenyum.
Untuk beberapa saat, rumah itu hanya dipenuhi suara langkah kaki, percakapan pelan, dan tangisan kecil Selim.